Minggu, 30 Desember 2012

Borneo Barat, ekspedisi th. 1850. Tulis tangan.

Berbeda dengan buku "Expedition to Borneo" th. 1846 yang diunggah sebelumnya, kali ini buku langka yang diunggah 'rare book' sebenarnya adalah bundel laporan "Ekspedisi ke Borneo Westkust" (Kalimantan Barat) pada Oktober 1850 sampai Agustus 1851.
Buku terdiri dari 3 bundel, A. bundel 'Laporan Kegiatan Harian', B. bundel 'Journal' dan C. bundel 'Deskripsi tentang Tanah yang Ditempati oleh orang China'. Semua ditulis tangan langsung oleh pelakunya dalam bahasa Belanda yaitu Leutenant der Genie D. Maurschlut (maaf kalau keliru, karena tulisannya kurang jelas).
Tinta yang digunakan bersifat membakar kertasnya, jadi walaupun kertasnya tebal, tapi buku hanya ditulis setengah halaman bagian kanan agar bila tintanya tembus ke sebaliknya, tulisan disebaliknya tetap bisa terbaca (lihat gambar atas halaman sebelah kiri, tulisannya tembus, tapi tidak menutupi tulisan yang disebaliknya).

Gambar atas adalah halaman awal buku langka ini, tertulis Borneo W Kust, K.7.P.2.V.3. No.: 325, Borneo W Kust dan ada 2 stempel dari Topografisch dan Geografisch Bureau.

Orang2 China sebetulnya di pertengahan abad ke 18 sudah tinggal di Kalimantan Barat, beratus orang berkelompok-kelompok mendapatkan ijin untuk menambang emas dari Sultan yang berkuasa saat itu, bahkan mendapatkan ijin untuk membuat aturan2 layaknya mempunyai pemerintahan sendiri.
Gambar atas adalah judul bundel ketiga : 'Beschrijving Der Door de Chinezen Bezette Landen' (Uraian tentang tanah yang ditempati orang China).
Dalam bundel ketiga ini diuraikan mengenai tanah yang ditempati orang China di daerah Borneo Barat, yaitu daerah2 Sambas, Mempawah, Pontianak, Montrado, Mandor, Lara dll, diantranya mengenai : Iklim, Populasi, Ketahanan Sumber daya, Operasi militer, Kominkasi dan Transportasi.

 Dibawah adalah gambar halaman pada bundel pertama, dilengkapi dengan gambar (sungai) hasil ekspedisi.
Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan watermark (gambar yang bisa dilihat kalau diterawang), lihat gambar diatas, berukuran folio, sayang kertasnya sudah rapuh, begitu terlipat langsung patah dan putus.

Bundel pertama sebanyak 28 lembar, bundel kedua 6 lebar, bundel ketiga 12 lembar, semua ditulis bolak balik kalau dihitung ada 46 lembar atau 92 halaman.

Kamis, 20 Desember 2012

Ekspedisi Borneo, 1846.


"Expedition To Borneo" adalah judul buku langka koleksi rare book, merupalan buku terbitan th. 1846, diterbitkan oleh Chaman and Hall, London, lebih dari 165 tahun yang lalu.
Buku berukuran 14 x 22 cm, VIII+337+XXVIII appendix halaman + 2 peta.


 Penulisnya adalah Henry Keppel RN., perwira angkatan laut yang berpartipasi untuk menekan pembajakan di perairan Selat Malaka dan sekitarnya pada th. 1843 - 1844.

 Buku ini berisi Ekspedisi ke Borneo oleh kapal 'HMS DIDO' dalam rangka untuk menekan kegiatan bajak laut dan sari jurnal James Brooke, dimana Brooke adalah penerima gelar 'Raja' dari Sultan Brunei pada th. 1841 karena dianggap berjasa untuk membuka perdagangan dengan pihak asing dan meneteramkan suku2 di pedalaman.

Judul gambar diatas 'Hutan dekat Santobong', sedang gambar bawah berjudul 'Night Attack on the Panglima's Prahu'


Gambar atas adalah peta Kalimantan sedang dibawah adalah peta Provinsi Sarawak. Peta2 ini dilampirkan pada buku langka ini.

Buku langka ini adalah edisi pertama, sayang covernya sudah pernah diganti, kemudian dalam tahun yang sama, edisi kedua diterbitkan oleh Harper and Brothersdi Publisher, New York.

Selasa, 11 Desember 2012

Riwajat Madoera.

Kali ini buku yang ditampilkan 'rare book' belum terlalu tua, namun pasti buku langka, karena buku ini diketik manual dan bukan carbon copy. Melihat bahasa dan ejaannya, diperkirakan ditulis sebelum kemerdekaan RI, minimal 65 tahun yang lalu. Judul yang tertulis dihalaman paling depan adalah "Riwajat Madoera", isinya kisah dan silsilah mulai dari awal para raja2 atau pembesar di Madura, sampai jaman pejajahan Belanda dimana raja, pangeran, adipati, dihilangkan kekuasaannya, hidup dengan gaji pemerintah kolonial Belanda, tidak boleh ada raja, diganti dengan bupati, tidak ada kedaton, diganti dengan kabupaten (hlm. 47), silahkan lihat/klik gambar bawah. 

Pada th. 1792, diangkat oleh Belanda, Kanjeng Panembahan Tjakra Adiningrat ke VIII, diberi 5.000 gulden per bulan (hlm. 44), sedang para patih yang diangkat Belanda (Raden Arja Poerwanagara dan Raden Arja Rangga Koesoemadiningrat) diberi gaji 300 gulden sebulan (hlm. 45).
 
Selain silisilah mengenai raja2 Madura, buku 'Riwajat Madoera' ini juga mengisahkan peristiwa2 yang berhubungan dengan Madura, diantaranya saat pengangkatan Tjakraningrat I oleh Sultan Agung di Mataram (hlm. 9) sil;ahkan klik gambar dibawah, dan Pangeran Tjakraningrat I dan putranya yg bernama Raden Arja Atmadjanagara terbunuh saat hendak medamaikan perseteruan antara Amangkurat I dengan adiknya yang bernama Pangeran Haryamtaram (hlm. 10 & 11).

'Riwajat Madoera' ini diawali dengan kisah cucu Prabu Brawidjaja akhir, dari Putra Arja Damar Palembang) yang bernama Ki Arja Minak Soeraja, merantausampai ke pulau Madoera (hlm. pertama), kisahnya agak mistis memang, selanjutnya menikah dengan peri (bidadari ?) bernama Ni Tanjoeng Woelan (lihat/klik gambar bawah).Kisahnya mirip kisah Jaka Tarub di Jawa. Bisa juga 'Riwajat Madoera' ini disebut Babad kalau di sastra Jawa atau Hikayat kalau di sastera Melayu.

Turunan Ki Arja Minak Soeraja dengan peri Ni Toenjoeng Woelan inilah yang menjadi cikal bakal Raja2 di Madura.
Silisilah yang ada di buku ini mirip dengan silisilah yang ada di buku 'Madoera En Zijn Vorstenhuis' yang pernah diunggah di blog ini, untuk lebih gampang mengikuti alur silsilahnya, disertakan silsilah dari  buku tersebut diatas (silahkan klik gambar dibawah ini)


Dalam buku Riwajat Madoera juga banyak daftar nama, diantaranya daftar nama2 Patih th. 1450-1808 (hlm. 47), nama2 Penghulu th. 1450 - 1811 (hlm. 48), nama2 Pangeran jaman dulu (hlm. 50).
'Cover' nya kertas tipis biasa, ditulis tangan, sedang isi dalamnya diketik manual, menggunakan bahasa Indonesia dengan tatabahasa dan ejaan sebelum kemerdekaan (ejaan van Ophuijsen), tanpa tahun, sebanyak 51 halaman diketik satu muka (tidak bolak balik).

Senin, 26 November 2012

Merek Geretan seabad yang lalu.

Bukan buku langka, tapi koleksi 'rare book' yang cukup langka, yaitu merek2 geretan tahun 1900 an. Buku ini didapat kira2 15 tahun yang lalu. Pernah diunggah juga di sini tapi kurang lengkap.


Merk geretan sebanyak 277 lembar, ditempel dalam sebuah buku oleh Cato van der Loon, di Pontianak tahun April 1918, tertulis pada cover depan (lihat gambar dibawah). Pada saat itu, dipedalaman di Jawa, masih banyak yang menghidupkan api menggunakan batu (batu thithikan) dan serutan kayu atau menggunakan peralatan tradisional lainnya. 


Beda dengan geretan kayu jaman sekarang yang terbuat dari karton, jaman dulu kotaknya dibuat dari kayu, mereknya ditempel di kotak kayu tersebut. Untuk melepaskan merek dari kotaknya tidak mudah, butuh kehati-hatian, agar gambarnya tetap utuh.
Umumnya geretan2nya buatan Sweden dan Jepang, walaupun ada dengan merek lokal, lihat gambar dibawah.

Gambar kiri, geretan merek 'Kosetan' bisa didapat di Reinh, Lange, Palembang. Bahkan diderah tertentu, geretan kayu biasa disebut 'kosetan'. Gambar kanan merek Ayam Jago, Kota Makssar, maksudnya Makasar.

 Gambar Wayang, sebelah kiri oleh E.M.Nathan Cheribon & Samarang, sedang sebelah kanan buatan Sweden.

Gambar sebelah kiri kerek Toko Abe Cheribon, Bandoeng-Semarang-Batavia. Gambar kanan gambar pistol bertiliskan huruf Rusia atau Eropa Timur, tapi kelihatannya lisensinya sama.

Yang dibawah ini sebelah kiri merk 'Sal-am' dibuat di Singapore & Java (Jawa), sebelah kanan gambar naga buatan Japan.

Sebelah kiri gambar monyet dan anak kecil, buatan Japan, sedang sebelah kanan gambar monyet naik sepeda buatan Batavia. Mungkin  atraksi 'Topeng Monyet' sudad ada dari jaman dulu di Batavia. 

Dibawah ini mungkin dibuat untuk menghormati pejabat. Sebelah kiri gambar Ratu Wilhelmina dibuat di Eindhoven, disebelah kanan gambar pejabat, sebagai Toeankoe Laras di Soengai Poear, tidak ada keterangan siapa pembuatnya.

Buku yang digunakan adalah buku tulis tidak bergaris buatan G. Kolff & Co. Batavia-Weltevreden, hard cover, marble, isi 70 lembar namun hanya terisi 24 lembar berisi 277 gambar merek geretan. 

Apakah koleksi ini cukup menarik ?, mudah2an.

Kamis, 01 November 2012

Centhini, tulis tangan, 1822/1893.

Setelah rare book menampilkan buku langka, beraksara Jawa ditulis tangan dengan indah dan rapi, maka kali ini rare book menampilkan buku langka, aksara jawa, tulis tangan tapi tulisannya seperti cacing, 'rare book' kesulitan untuk membaca buku langka ini. Namun demikian buku ini mewakili jamannya dan bisa digolongkan buku sastra jawa.
Buku langka ini berjudul "Serat Centhini 3" dalam bentuk tembang macapat (jenis lagu Jawa).
Bukunya berukuran 18 x 21 cm, 449 halaman, ditulis bolak balik, tintanya kadang tebal kadang tipis. Cover tebal sayangnya bagian depan bawah grepes digigit tikus (lihat gambar).

Disamping ini gambar halaman depan, terdapat judul keterangan mengenai isi buku langka ini : "Serat Centhini 3. Wiwit Seh Amongraga mulang Dewi Tambangraras, wonten ing Wanamarta hayasa griya inggal sapiturutipun, lajeng lelana tirakat, sawarnining redi redi utawi sawarnining guwa guwa, ngantos dumugi ing Kanigara ngadegaken paguron, anggelaraken ing ngelmu Karang".
Terlihat tulisannya dipertebal, mungkin oleh pemilik yang berikutnya, karena bagian bawah ada tulisan yang menerangkan bahwa buku ini dibeli oleh RM Panji Bratatanaya pada bulan Siyam 1847, :"Sampun kapundhut tumbas dening Raden Mas Panji Bratatanaya, kala Jumuwah, tanggal kaping :2 : Siyam : Dal :1847".


Disebelah adalah gambar halaman buku langka ini, terlihat tulisannya sulit untuk dibaca (kaya cacing), untuk lebih jelasnya, silahkan klik gambarnya.
Gambar berikutnya adalah gambar halaman akhir. 
Pada bagian bawah halaman akhir ini ada keterangan mengenai tahun selesainya buku ini ditulis, yaitu  bulan Besar tahun1822 atau Juni 1893, terbaca sbb. : "Rampunging panurun, nyarengi pamungkasipun Ingkang Sinuhun anggenipun sembahyang dateng masjid ageng, Jumuwah wage, tanggal kaping 8 wulan Besar tahun Je, mansa Karo, wuku Landep, angka 1822, utawi tanggal kaping 23 Juni 1893". Ada tanda tangan pemilik pertamanya tanpa ada namanya.
Walaupun tulisannya tidak jelas tapi setiap selesai satu tembang diberi hiasan ornamen cukup menarik, lihat gambar berikut.



Jadi pada jaman dulu, akhir abad XIX, belum ada mesin ketik apalagi mesin fotocopy, bila ada orang yang ingin memiliki buku tapi tidak ada yang jual maka dia harus menyalin atau menulis ulang buku tersebut.
Karena Centini merupakan buku berjilid banyak, jadi orang kadang hanya menurun bagian2 yang diperlukan, seperti pada buku ini, isinya mengenai pelajaran Seh Amongraga pada istrinya dan pelajaran Ilmu Karang.

Minggu, 28 Oktober 2012

Kisah Panji Asmarabangun, dalam 'Tembang Aksara Jawa Tulis Tangan'. Lanjutan.

Masih melanjutkan posting buku langka 'Tembang Aksara Jawa Tulis Tangan' yang didapat di Solo (lihat gambar), 'rare book' menampilkan salah satu dari dua kisah yang ada dalam buku tersebut, yaitu "Kisah Panji Asmarabangun", termasuk sastra jawa yang populer di masyarakat, khususnya di pulau Jawa.
Sebetulnya banyak sastrawan Indonesia maupun asing meneliti/menulis perihal kisah2 Panji Asmarabangun, misalnya R.Ng. Ranggawarsita, RM. Poerbatjaraka, A. Teeuw, J.J. Ras, Lidya Kieven dll. Banyak sastrawan yang menulis novel dengan latar belakang kisah ini dan kisah ini juga banyak dipentaskan pada wayang beber maupun pada sandiwara2 tradisional.

Gambar disebelah adalah tulisan yang menunjukan awal kisah 'Panji Asmarabangun', 'rare book' menambahkan dengan transliterasi huruf berwarna putih, silahkan klik untuk lebih jelasnya, bahasa Indonesia nya : "Panji Asmarabangun putra Kuda Jayengsari menghilang bersama permaisurinya, Dewi Sekartaji, Putri Ayu Condrakirana, nggak ada seorangpun yang tahu"

Dalam buku langka ini, kisah Panji ditulis dalam bentuk tembang (lagu) Jawa, tulisannya rapi, aksara yang menerangkan jenis tembangnya diberi variasi tertentu. Gambar diatas ini contoh betapa rapinya tulisannya dan variasi tulisan jenis tembangnya, yaitu tembang 'Dhandanggula'.
Sedang gambar dibawah ini contoh untuk jenis tembang 'Megatruh'.


Kalau gambar disamping ini adalah contoh bila buku langka tersebut kita buka, halaman 58 - 59, walaupun terlihat warna halamannya tidak rata karena usia dan cara penyimpanan yang kurang baik, tapi masih kelihatan tulisannya yang rapi, sudut kemiringannya dan ukuran hurufnya rata. Dan kerapian itu terlihat sampai halaman terakhir.

Jumat, 19 Oktober 2012

Wejangan Nabi Khaidir dan Sunan Bonang pada Sunan Kalijaga. Lanjutan 'Tembang Aksara Jawa Tulis Tangan'.


Melanjutkan posting sebelumnya mengenai buku langka yang didapatkan di Solo, tulis tangan, dalam bentuk tembang Jawa, macapat, aksara Jawa (lihat gambar dibawah).

Dalam kesempatan ini 'rare book' menampilkan bagian buku yang mengisahkan 'Sunan Kalijaga', dan 'rare book' hanya menampilkan cuplikan2 yang sudah ditrasliterasi kan dengan huruf berwarna putih.
Dalam buku ini kisahnya dimulai dari Sunan Kalijaga masih muda, seorang brandal anak Adipati Tuban, yang  bernama Lokajaya , diberi nama menjadi Syeh Malaya oleh Sunan Bonang, sampai beliau mengangkat Kiageng Pandanaran menjadi Sunan Bayat.

Gambar samping adalah cuplikan kisah Lokajaya, diusir oleh orangtuanya, bupati Tuban : "anak mring sibagigal, matinya sun tan wruh, luhung nuli pinu lungaha, . .  Wus misuwur dhugale kapati, raden Lokajaya nagri Tuban, kang putra sang dipatine, ... dst."

Disamping adalah cuplikan saat Syeh Malaya diangkat jadi Wali oleh Sunan Bonang : "Apan wus jangkep sawarsi, ... dst.  jeng sinuhun angandika, luwara tapanira, jenenga Wali sireku, panutup panata gama."

Disebelah adalah cuplikan wejangan Sunan Bonang kepada Syeh Malaya : "Sunan Benang ngandika ris, Seh Malaya bener sira, nanging sapemanggih ingong, ingkang ngaran panarima, elinga marang kang murba ... dst."

Gambar samping adalah cuplikan kisah saat Syeh Malaya ketemu Nabi Kilir (nabi Khaidir) : " ya ta wau jeng sinuhun Kalijaga, pan aneng ing jaladri, sampun pinanggihan kadya tiyang leledhang, paparab sang nabi Kilir, ...dst."

Disebelah adalah cuplikan wejangan Nabi Kilir (Khaidir) kepada Sunan Kalijaga : "Sajatine ya Muhkamad, kalawan Allah sejati, .... dst. dene tegese uga ginenten ananing Widi, apan niku jumenengira sunatullah."

Disamping adalah cuplikan saat Kiageng Pandanaran diangkat sebagai Sunan Bayat : "Jeng sinuwun Kali ingkang prapti, ......dst.  ngandika jeng Sinuwun, ... jumenenga Sunan Bayat, sidakna gonira akarya masjid, ngimani gama Islam."

Seluruhnya ada 20 lembar ukuran folio, ditulis bolak balik menggunakan aksara Jawa dan berbentuk lagu Jawa (tembang), jadi kata2 dan susunan kalimatnya menjadi tidak lazim agar sesuai dengan lagunya. Buku langka ini bisa digolongkan dalam buku agama, kebatinan bahkan buku sastra jawa.
Kertasnya sudah digigiti tikus dibagian pinggirnya dan ada bekas cairan, mungkin air kencing tikus, silahkan lihat dan klik gambar kertasnya dibawah ini.

Kamis, 18 Oktober 2012

Tembang Aksara Jawa Tulis Tangan Tanpa Judul.

Di Solo, Jawa Tengah,  'rare book' berkunjung ke penjual buku bekas, ditawari buku aksara Jawa, ditulis tangan, ukuran folio. Walaupun saya belum tahu apa isinya, bahkan terlihat kumuh, tanpa judul, nomer halaman tidak jelas, jilidan sudah lepas2, namun buku tersebut tetap diambil untuk dikoleksi, karena bagaimanapun juga, buku tersebut adalah sebuah karya sastra jawa, mewakili jamannya. Buku langka ini bisa dijadikan tantangan untuk mengetahui isi, asal, usia dan lainnya dari buku ini.

Setelah dilihat lihat, halamannya banyak bercak2, penulisnya minimal 2 orang, walaupun sedikit beda gayanya,  masing2 tulisannya sangat rapi, ukuran dan sudut kemiringan hurufnya, sama dari awal sampai akhir, sayang pemberian nomer halaman ada yang jelas, burem bahkan ada yang tidak diberi nomer, mungkin penomeran halaman dilakukan setelah selesai seluruh penulisannya, silahkan klik gambar dibawah ini agar tampak lebih jelas.

3 gambar sebelah kiri menunjukan perbedaan gaya penulisannya, sedang 3 gambar sebelah kanan menunjukan penomeran halaman yang jelas, burem dan tidak ada nomernya.

Halaman2 pada buku tersebut, karena kondisinya, terbagi menjadi 4 bagian, yaitu halaman yang utuh dan halaman yang tampak pada gambar dibawah ini, silahkan klik gambar dibawah ini agar lebih jelas. Gambar kiri halaman hanya kena noda cair, gambar tengah halaman hanya digigit tikus hingga growak dan gambar sebelah kanan adalah halaman yang kena noda cair sekaligus digigit tikus.

Ada keinginan untuk mengetahui, mengapa ada halaman yang kena noda dan ada yang tidak kena noda, halaman yang digigit tikus tapi tidak sama letaknya. Setelah dicoba untuk disusun ulang, diperkirakan saat tikus menggigit dan tersiram cairan (mungkin air kencing tikus), posisi/susunan halaman buku ini seperti yang tampak pada gambar dibawah ini.

Pada hardcover (pola marble) bagian depan dalam kiri atas, terdapat tempelan kecil (2 x 3 cm) dari toko buku dan penerbit Boedie Oetomo, Solo dengan harga 1 gulden. Mungkin hardcovernya bukan aslinya.


Setelah dirapikan dan diurutkan halamannya,  dibaca perlahan-lahan, ternyata buku terdiri dari 2 (dua) kisah/babad/hikayat, dalam bentuk tembang macapat (lagu Jawa), yaitu :
1. Panji Asamarabangun dan
2. Sunan Kalijaga, termasuk wejangan Sunan Bonang kepada Syeh Malaya, wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga dan wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Bayat.

Memperhatikan kertas, tinta, susunan bahasanya dll. dalam buku ini, diperkirakan buku ini ditulis sekitar tahun 1900 an (maaf kalau keliru). Insya Allah, isi buku langka ini akan diunggah pada kesempatan berikut.

Minggu, 07 Oktober 2012

Poster GANEFO I, th. 1963

Poster Ganefo I di Jakarta th. 1963.



Posternya cukup besar, 100 cm x 70 cm, sebagai pembanding disertakan gambar kaset audio pada pojok bawah kanan. Sayang agak sedikit kotor pada pinggirnya.  
Seperti yang telah disampaikan pada posting sebelumnya, Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia, memprakarsai pembentukan Ganefo singkatan dari 'Games of The New Emerging Forces', Pesta Olahraga Negera2 Berkembang, dengan tujuan untuk menandingi Olimpiade (IOC).
Selain Ganefo, Bung Karno juga akan menyenggarakan Conefo, singkatan 'Conference of The New Emerging Forces', Konperensi Negara2 Berkembang. Bahkan gedung yang direncanakan untuk Konferensi sudah selesai dibangun (sekarang digunakan untuk DPR/MPR) namun Konfernsi batal dilaksanakan.

Ganefo I diselenggarakan di Jakarta pada 10 - 22 November 1963.
Ganefo II, diselenggarakan di Pnom Penh, Kamboja, pada tgl. 25 November - 6 Desember 1966, dihadiri hanya oleh negara di Asia sehingga disebut
 Ganefo Asia I.
Ganefo III atau Ganefo Asia II, awalnya akan diselenggarakan di Beijing, namun Beijing membatalkan niatnya dan diserahkan ke Pyongyang Korea Utara. Akhirnya tidak pernah dilaksanakan dan Ganefo bubar.