Sabtu, 05 Mei 2018

Ilmu Petangan "Liok Djim"

Gambar dibawah ini adalah buku berjudul "Ilmoe Petangan Liok Djim". Kata 'Petangan' diduga berasal dari kata etangan, bahasa Jawa, artinya hitungan. 
Ilmoe Petangan Liok Djim adalah ilmu untuk mengetahui keadaan masa yang akan datang berdasarkan ruas jari, dari Tiongkok, maka buku 'petangan' ini juga menggunakan bahasa yang biasa digunakan oleh golongan Tionghoa pada saat itu, yaitu biasa disebut bahasa 'melayu rendah'. Berikut dibawah ini cuplikan dari halaman 'Pendahuluan', bunyinya tidak dirubah, hanya ejaannya disesuaikan agar lebih mudah membacanya.
"Tentang halnya ini ilmu petang ampir tida perlu dilukiskan lebi jau, sebab penuturan dibagian sebla depan suda cukup buat dimengerti, apa yang sabetulnya ingin diketahui hal-hal yang berhubung dengan Ilmu Petangan Liok Jim.
Untuk mengetahui lebih banyak, silahkan membaca tulisan pada gambar-gambar dibawah ini (untuk lebih jelas, silahkan 'klik' gambar-gambarnya).
Buku ini diterbitkan oleh Lie Tiong Goan & Co. - Batavia, diperlindoengkan hak pengarang-Staadblad 1912 no. 600, cetakan pertama, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, 
Gambar atas kiri adalah Cover depan, sedang sebelah kanan cover belakang.
Gambar-gambar bawah contoh bahasa pengantar yang digunakan. . 

Gambar bawah adalah daftar isi, sedang gambar paling bawah adalah halaman iklan.
Buku ini berukuran 10.7 x 16.5 cm, 41 halaman.
Maaf bila ada kekeliruan, karena kami bukan ahli bahasa.

Minggu, 01 April 2018

ER WERD EEN STAAD GEBOREN


Buku ini mengisahkan terbentuknya sebuah kota berdasarkan catatan sejarah kota Surabaya, sejak th. 700 an sampai th. 1294 saat Raden Wijaya mendirikan dan menjadi raja pertama Majapahit.
Judulnya agak panjang :
"EER WERD EEN STAAD GEBOREN"
 De wordingsgeschiedenis van het oudste Surabaja.
Penulis buku ini adalah G.H. Von Faber, 1899 - 1955, warga asli Surabaya keturunan Jerman-Belanda, selain menulis dan menerbitkan buku dia juga mendirikan museum yang kemudian dikenal dengan Museum Mpu Tantular.

Menariknya, buku ini dilengkapi peta-peta dan gambar-gambar yang menarik dan mendukung kisah terbentuknya Surabaya.
Gambar bawah adalah peta perbandingan Surabaya th. 1275 dengan th. 1940, menarik bukan?

Skets perkembangan lahan/tanah Surabaya, dari abad ke IX, X dan XIII (bawah kiri). Route ekspedisi China th.1293 (bawah kanan).  

Rekontruksi peta, Pelabuhan transit Dadoengan dan sekitarnya pada abad ke IX (bawah)

Rekontruksi peta, medan peperangan di Soerabaja th. 1270 (bawah).

Dibawah ini urutan waktu sejarah Surabaya, th. 700 - 1294.

Ada lebih kurang 22 halaman khusus untuk sponsor/pendukung atas diterbitkannya buku ini oleh perusahaan-perusahaan di Surabaya saat itu, diantaranya seperti yang terlihat dibawah ini.

Buku ini walaupun masih muda tapi sangat menarik dan sudah menjadi koleksi 'buku langka' 'mmzrarebooks.blogspot.com' lebih dari 20 tahun, diterbitkan oleh  G. Kolff, pada th. 1953, hard cover, 21 x 30 cm, XII + 198 halaman + 22 halaman pendukung/sponsor.

Senin, 05 Maret 2018

De Javaansche Danskunst.


Bersyukur kepada Th. B. Van Lelyveld, yang mana telah 'mendokumentasikan' budaya tari pewayangan dan budaya tari dilingkungan kraton di Jawa, dalam bentuk buku yang berjudul :
"DE JAVAANSCHE DANSKUNST",
Gambar diatas adalah halaman awal terdapat gambar Dewi Maherah, berdampingan dengan halaman judul buku ini. Dalam halaman judul, selain judul buku ini,  juga terdapat nama penulisnya, Th.B. van Lelyveld, dan nama penerbitnya, Van Holkema & Warendorf's Uitgevers-Miy. NV.

Dalam buku ini terdapat 20 bab dan dilengkapi dengan 74 gambar, diantaranya beberapa gambar/foto tampak dibawah ini
Diatas adalah gambar Tari Bedaya, biasa ditarikan di Kraton.

Atas kiri gambar satria melakukan gerakan 'sabet' selempang sedang atas kanan gambar putri Srikandi sedang melakukan gerakan 'kijat'.
Gambar diatas adalah posisi badan saat tarian akan dimulai dan 4 gambar dibawah (searah jarum jam) adalah nama gerakan tarian yaitu : keplok tangan, antra jamang, ngungur sinom dan miwir kepuh ,
sedang 4 gambar dibawah ini (searah jarum jam) : Atrap-sumping, ukel tangan, lambeyan dan dolanan sumping.

Dibawah ini adegan saat ada pertemuan Raja dengan punggawa.
Gambar bawah adalah contoh gaya tangan (searah jarum jam) : ngruji, ngepel, nyempurit dan ngiting.

Dibawah adalah gambar gerakan tari Serimpi

Buku ini berukuran 22 x 28 cm, 258 halaman, diterbitkan pada th. 1931, hard cover dengan tulisan dan gambar berwarna keemasan.

Minggu, 25 Februari 2018

TAPEL ADAM (?). Aksara Jawa.


Jeda antara unggahan terakhir dengan unggahan kali ini relatif agak lama, lebih kurang 3 bulan. Hal tersebut karena rasa ingin meyakinkan, isi 'buku langka' yang diunggah ini.
Tanpa judul, tanpa keterangan mengenai siapa penerbitnya dan kapan diterbitkan, hanya ada tulisan tangan menggunakan pinsil : 'Tapel Adam' dihalaman depan yang kosong  (gambar bawah kiri), mungkin ditulis oleh pemilik sebelumnya, sebagai keterangan isi buku ini.
Beruntunglah pada halaman paling awal, halaman 3 (atas kanan), terdapat keterangan siapa penulis dan kapan buku ini ditulis (gambar bawah).

Pada halaman 3 (gambar atas), ditengah tertulis 'Dhandhanggula', maksudnya 'cerita' ini berbentuk tembang Jawa, pupuh dhandhanggula.
Dibawahnya ada keterangan :"Sinarkara purwakaning tulis, dite manis kaping nem candra ma, Dulkijah .. angkaning warsa Hijrah, sewu tigang atus kalih welas kang isaka, sinung tengran guna nro kesti tunggil, .. dst"
"Awal penulisan, Minggu Legi tanggal 6 Dulkijah, tahun Dal, windu Sangara, wuku Warigagung mongsa Suji, tahun 1312 Hijrah, di tahun Saka ditandai dengan 'gunan ro kesti tunggal'

Dibawahnya lagi ada tulisan tersamar yang menunjukan nama pemrakarsa atau penulisnya, yaitu huruf yang terletak pada awal kalimat, Pa Nge Ran Ha Ri Ya Sa Sra Ning Ngrat (gambar bawah) maksudnya Pangeran Harya Sasraningrat.
Jadi penulis buku ini ialah Pangeran Hariyo Sasraningrat.

Selanjutnya pada halaman 4 pupuh ke 2 (gambar atas) tertulis : "Kang minangka bubukaning rawi, Kangjeng Nabi Adam lan kang garwa, Dewi K(h)awa nalikane, dinukani Hyang Agung, tinurunaken saking sward(g)a di, neng donya sru kaswala, daruranira tuk, babendhunireng Pangeran, awit saking nerak laranganing Widhi, dhahar woh-wohan swarga, yeku ingkang anama woh kuldi".
Maksudnya : "sebagai awal cerita, Kanjeng Nabi Adam beserta istri, Dewi Hawa, sedang dimarahi Hyang Agung (Allah), diturunkan dari sorga ke dunia, dihukum Pangeran (Allah) karena melanggar larangan, makan buah-buahan sorga, yang bernama buah kuldi"

Walupun mirip dengan 'Tapel Adam'  koleksi Fakultas Sastra UI yang diunggah di internet, namun ada beberapa perbedaan, diantaranya terlihat pada halaman awal masing-masing (gambar bawah). Penulisnya, tahun penulisannya, pembukaan dan cerita awalnya berbeda, tembang awalnyapun berbeda.
Dibawah ini ditampilkan awal halaman 'buku langka' ini (kiri) dengan halaman pembuka koleksi FSUI (kanan), keduanya sudah ada sulihaksaranya warna merah.
Kalau koleksi 'buku langka' ditulis tahun 1894/1895 oleh Pangeran Harya Sasraningrat, sedang koleksi FSUI ditulis ulang pada 16 Juni 1892 (ari respati paingnya, tanggal ping kalih dasane, sasi sela dyan sinedya, tahun jimawalannya)

Buku berisi lebih dari 250 halaman ini menceritakan kisah Nabi Adam dan keturunannya, kisah pewayangan, kisah jin dan siluman, kisah awal keberadaan manusia di Jawa dan pulau-pulau lainnya. Isi buku ini juga ada kemiripan Serat Paramayoga.

Hanya ada 2 buah gambar, sayangnya sudah buram semua, berikut adalah salah satu gambarnya,

"Sang Hyang Jagad Nata, kaliyan Dewi Uma, ingkang wonten wingkingipun, lembu Andini".
Sang Penguasa Jagad bersama Dewi Uma, sedang dibelakangnya duduk Lembu Andini.
Kondisinya buku langka berukuran 14.5 x 19 cm ini memang sudah memprihatinkan, bahkan cover yang sudah mengalami perbaikanpun kembali digigiti binatang (gambar bawah).
  Seluruhnya beraksara Jawa, disajikan dalam bentuk tembang Jawa Macapat, hard cover.
Sampai buku ini diunggah, masih belum yakin apa judul buku ini, maaf.

Rabu, 29 November 2017

Intermezzo. Belati berpamor.


Sekitar th. 2000 an, teman saya menunjukan hasil karya'non keris'-nya, berbentuk pisau belati model 'bowie',
 namun cara pembuatannya mirip dengan cara menempa keris, sehingga pada bilah nya timbul 2 macam 'pamor' yaitu pamor 'beras wutah' pada bagian kiri-kanan bilah dan pamor 'untu walang' pada bagian tajamnya.

Gambar pisau dalam sarungnya.
Gambar dilihat dari kanan.
Gambar dilihat dari kiri.
Gambar pamor.

Saya terkagum-kagum, saya melihat sebuah karya seni nan indah, sebuah keserasian bentuk abad XX an, dikerjakan dengan tehnologi ratusan tahun yang lalu; hasilnya sebuah pisau belati model 'bowie' dihiasi 'pamor', gagangnya dibuat dari kayu berserat 'ulir', perlengkapan gagang dibuat dari kuningan, dikerjakan sangat teliti dan serasi.
Bilah tajam sepanjang 19 cm (gambar atas), bila dilihat dari atas maka terlihat banyak sekali lipatan hasil tempaan. Untuk lebih jelasnya, silahkan 'klik' gambar-gambarnya. 

Ketika ditanya "Apakah mau menyimpan hasil karyanya?". Tidak bicara apa-apa, saya langsung mengangguk tanda 'mau' (banget).
Kepada teman saya seorang seniman kulit, saya minta dibuatkan sarung yang sesuai, agar tetap terlihat indah walaupun pisaunya berada dalam sarungnya.

Pembuat pisau belati tersebut adalah teman saya, yaitu
 'mas' Basuki Teguh Yuwono,
 seorang empu keris dengan latar belakang peneliti dan ilmuwan, dia seorang staf pengajar Program Studi Keris Institut Seni Indonesia Solo, ia menggabungkan nilai keilmuan dengan nilai tradisi perkerisan.
Pria yang dikenal rendah hati dan murah senyum itu juga memiliki Padepokan sekaligus Museum Keris dan Fosil, 'Brojobuwono', di Wonosari, Karanganyar.

Selasa, 21 November 2017

Aardbeving Te Ambon (Gempa Bumi di Ambon).


Membaca berita di berbagai media masa mengenai gempa bumi yang terjadi di Ambon dan sekitarnya beberapa hari yang lalu, maka teringat akan buku laporan yang dibuat pada th. 1898 oleh R.D.M. Verbeek, Kepala Insinyur Pertambangan, melaporkan terjadinya gempa bumi di Ambon pada th. 1898. Buku tersebut berjudul :
KORT VERSLAG 
over de
AARDBEVING TE AMBON
of
6 JANUARI 1898
(Laporan singkat tentang gempa bumi di Ambon pada 6 Januari 1898)

Dalam laporannya sebanyak 26 halaman (2 gambar bawah), disebutkan diantaranya sbb.:
 'Gempa tersebut, yang menghancurkan sebagian besar Ambon dalam beberapa detik pada tanggal 6 Januari tahun ini (1898).
Juga disampaikan dalam laporan beberapa gempa besar yang tercatat :
Yang pertama adalah pada bulan Mei 1644, "Pada tanggal 12 Mei dinding benteng merubuhi rumah gubernur, tanggal 17 Mei dua bangunan rumah roboh, dan seorang tentara tewas karena terjatuh.
Yang kedua adalah tanggal 17 Februari 1674, di mana 79 orang, termasuk 7 orang Eropa, terbunuh oleh runtuhnya rumah batu di distrik China Ambon. Di Pantai Utara Hitoe ada endapan tanah di gunung Wawani (atau Toena) dan puncak sekitarnya, dan lumpur turun; Tapi, lebih jauh lagi, ada juga pergerakan laut yang sebenarnya, yang disebut gempa laut (tsunami), di mana laut naik sampai 10 kaki di atas tingkat normal, dan banyak kota pesisir dibanjiri; 2243 orang terbunuh, termasuk 31 orang Eropa. (Khusus mengenai gempa yang kedua ini  sudah diunggah pada 5 November 2010 dengan judul "Gempa dan Tsunami th 1674 di Amboina").
Yang ketiga adalah tanggal 1 November 1835, yang dilaporkan dalam dua surat resmi 4 November 1835 dan 2 Maret 1836 dari Gubernur Kepulauan Maluku A.A. Ellinghuijsen ke Gubernur Jenderal. 21 tentara dan 9 ibu dan anak terbunuh; dan sebagai akibat dari runtuhnya rumah dan tembok di tempat lain, 12 pria dan 17 wanita dan anak-anak terbunuh, 59 orang bersama-sama.
Gempa keempat yang terjadi pada tanggal 6 Januari 1898, yaitu yang sedang dilaporkan dalam buku ini, menurut laporan resmi, jumlah korban yang harus disesali adalah 141, termasuk 9 orang Eropa.


Selain laporan gempa di Ambon, juga disertakan laporan keadaan di Amahei, yaitu kota besar dipantai pulau Ceram yang berhadapan langsung dengan Saparua, Haruku dan Ambon, oleh beberapa pejabat setempat (gambar bawah)

Gambar-gambar bawah adalah peta situasi kota Amehei dan statistik penduduk kota Amahei dan kampung sekitarnya pada saat itu (th. 1898).
Untuk lebih jelasanya, silahkan 'klik' gambar-gambarnya.

Buku laporan ini berukuran 17.5 x 25 cm, 46 halaman + 5 lembar peta. Diterbitkan oleh Landsdrukkerij, Batavia, tahun 1898.