Senin, 24 Juli 2017

Kidung Kasukman.


Buku koleksi 'bukulangka' yang hampir seluruhnya menggunakan aksara dan bahasa Jawa ini adalah lagu2 rohani Kristen, pengarangnya adalah seorang misionaris bernama  P. Ant. Janz, pendeta di Margaredja. Judulnya "KIDUNG KASUKMAN" 
Buku ini diterbitkan oleh 'Lectuurecommissie NIZB' (Nederlandsch Indishche Zending Bond), pada th. 1925.

Gambar atas adalah 'kidung' yang pertama berjudul 
"Etuking karahayon"
selanjutnia tertulis 'yokhanan 1:17, 'rahe kang putra Yesus kristus iku angresiki sakehe dosa kita'.
Kidung pertama ini lengkap 3 bait, juga ada keterangan lirik mana hanya dinyanyikan sebagian yang hadir dan lirik mana yang dinyanyikan oleh seluruh yang hadir. 

Gambar bawah adalah lagu ke 13, judulnya "Kaluwaran", Masmur, 107:2. 'Kaya mangkono pangucape para wong kang padha tinebus dening Yehuwah'

Gambar bawah ini lagu no. 16, judulnya :"Gusti Panuntun Kula". Yesaya 41:13. 'Ingsun Yehuwah, dadi Allah ira, kang anyepeng tangannira tengen'

Judul lagu berikutnya (gambar bawah), no. 28 adalah :"Gusti Pangungsen Kula". Masmur 9:10. 'Yehuwah dadi beteng marang wong kang kesrakat, dadi beteng ing masane karuwedan'.

 Seluruhnya ada 28 lagu, empat diantaranta sudah diunggah diatas.

Ukuran buku langka ini 13 x 19 x 0.8 cm, HC, 84 halaman, jilid pertama, cetakan ke 4.

Selasa, 18 Juli 2017

Serat Anglingdarma.


Saat bermain ketempat teman penggemar barang-barang kuno dan langka, dia menunjukan setumpuk 
kertas kuno bertuliskan tangan aksara Jawa. 
  
Dilihat sepintas, tumpukan kertas tersebut memang berantakan,banyak yang keriting dan sobek pada bagian pinggir kertas, ketebalan tintanya pun sudah tidak rata,
nomer halamannya tidak jelas, bahkan halamannyapun sudah tidak lengkap, baik di awal, tengah dan akhir.
Setelah dirapikan ternyata kertas-kertas tersebut adalah sebuah buku, hanya ada sebanyak 114 lembar atau 228 halaman.
Paling awal halaman 19, gambar bawah kiri dan halaman terakhir, 342, gambar bawah kanan.

Walaupun halamannya tidak lengkap, bagaimanapun juga keadaannya perlu diselamatkan, karena buku tersebut adalah hasil karya para seniman yang mewakili jamannya. Apalagi tulisannya konsisten rapi, tebal tipis teratur dengan baik, maka mudah dibaca, sehingga mudah diketahui bahwa isi buku tersebut adalah cerita/kisah "ANGLINGDARMA" dalam bentuk tembang Macapat, yaitu jenis lagu/irama Jawa yang terdiri dari 11 lagu/irama.
Bahkan menjadi sangat menarik, pada setiap akhirnya tembang, diberikan ornamen khas Jawa yang indah, dan apabila ada pergantian lagu, pada ornamennya disisipkan nama tembang/lagu yang berikutnya.
Sebagai contoh, bisa dilihat pada gambar-gambar dibawah ini :
Gambar atas, disisipkan lagu berikutnya yaitu tembang 'Dhandanggula'
Diatas hanya ornamen tanpa pergantian tembang
Digambar atas, pada akhir lagu ada kata 'mijil', berarti lagu berikutnya adalah tembang 'Mijil'.
Diakhir lagu ada kata 'mendem pucung', berarti berikutnya tembang 'Pucung'
Diatas hanya ornamen tanpa pergantian tembang
gambar atas, diornamen terselip tulisan 'sinom', berarti berikutnya tembang 'Sinom'.
Diatas hanya ornamen tanpa pergantian tembang.

Di akhir pertemuan dengan teman, buku yang tidak lengkap tersebut diatas, menjadi koleksi 'bukulangka' juga,  alhamdulillah.

Jumat, 30 Juni 2017

Layang Damarwulan


Yang diunggah 'bukulangka' dibawah ini berjudul 
"LAJANG DAMAR-WOELAN"
menggunakan ejaan versi van Ophuysen, atau 'Layang Damar-Wulan' dalam ejaan sekarang. Dengan pengantar berbahasa Belanda.
Buku langka berukuran 21.5 x 27 cm, XXXIII + 55 + 110 halaman, HC, diterbitkan oleh Batavia Boekhandel Visser & Co. pada th. 1905.
Penulisnya D. van Hinloopen Labberton, seorang guru pengajar bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Dia juga anggota Comissie voor de Volklectuur dan kemudian komisi ini menjadi Balai Pustaka.

Layang Damar-Wulan (LDW), aslinya berbahasa dan beraksara Jawa, ditulis dalam bentuk tembang 'macapat' (lagu Jawa), 
tetapi dalam buku ini LDW ditulis dalam bentuk prosa biasa, tidak dalam tembang.
buku langka ini menggunakan bahasa Balanda sebagai bahasa penghantar, sedang LDW menggunakan bahasa Jawa.

LDW dalam buku ini, sebagian menggunakan huruf cetak dan sebagian menggunakan aksara Jawa (gambar atas).

Disini 'bukulangka' tidak menceritakan kisah Damar-wulan, karena kisahnya sudah populer dikalangan masyarakat, terutama masyarakat di Jawa.

Buku langka ini kelihatannya sudah pernah mendapatkan perbaikan, terutama covernya.

Kamis, 08 Juni 2017

Jong Java.


Dalam rangka memperingati 'Hari Kebangkitan Nasional', 'bukulangka' mengunggah buku perkoempoelan Jong-Java dibawah ini.

"Gedenkboek JONG-JAVA"
atau
Kitab Peringatan JONG-JAVA
7 Maart 1915 - 1930
Buku ini diterbitkan oleh 'Pedoman Besar Jong-Java' pada tah. 1930, untuk meperingati 30 tahun Jong-Java, walaupun sesungguhnya pada tgl. 29 Desember 1929,  demi menghilangkan kesan kedaerahan dan mendukung pergerakan kebangsaan, Jong-Java (sebelumnya bernama Tri Koro Darmo) membubarkan diri dan melebur ke Organisasi Indonesia Muda. Silahkan lihat Soerat Poetoesan  Memboebarkan Perkoempoelan dibawah ini.

Diatas adalah gambar  Ketua th. 1918 dan Ketua th. 1921 juga Anggota Kemuliaan, mungkin maksudnya Anggota Kehormatan.

Diatas, gambar kegiatan Kepanduan/pramuka dan gambar Pandu putri, sedang dibawah, gambar Ketua seksi Kepanduan (kiri) dan Ketua Penghabisan (kanan) s/d th 1929.

Dibawah, adalah gambar Lambang dan Bendera Perkumpulan Jong-Java.

Gambar atas, adalah Pengurus Indonesia Muda dimana Jong-Java meleburkan diri.

Ukuran 'bukulangka' ini 14 x 20 x 1.6 cm, hard cocer, 336 halaman.
Sayang saat ditemukan, banyak sarang kutubuku di bukunya.
Untuk lebih jelasnya, silahkan 'klik' saja gambar2nya.

Jumat, 02 Juni 2017

Jawa Kuno dan Seni Jawa Kuno.


Buku yang diunggah ini sekarang (2017) berumur 92 tahun, dikoleksi cukup lama. Judulnya : 
"Het Oude Java En Zijn Kunst" oleh Dr.N.J. Krom.
Buku ini menceritakan keadaan seni dan budaya di Jawa pada jaman dulu yaitu jaman Hindu.

Dibawah ini gambar cover depan dan belakang dimana ada embos gambar lambang penerbit dan pencetaknya yaitu Volksuniversiteits Biblieotheek dan De Even F. Bohn Haarlem.

Gambar-gambar bawah ini adalah relief pada candi-candi jaman hindu. Silahkan 'klik' agar lebih jelas.

Penulisnya N.J. Krom (1883 - 1945), gambar bawah) adalah seorang profesor ahli arkeologi dan sejarah, dan dia banyak menulis buku tentang Hindu di Jawa.


 'buku langka' ini berukuran 10.5 x 17.3 x 1 cm ini, sekarang (2017) baru berumur 92 tahun, mempunyai 218 halaman + 8 halaman gambar foto. 

Sabtu, 29 April 2017

Sejarah Radio di Indonesia.


Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi sejarah, mengenai Stasiun Pemancar Radio Republik Indonesia, mulai dari jaman 'Hindia Belanda' sampai jaman 'Kedaulatan Republik Indonesia', 
judul buku ini adalah :
"SEDJARAH RADIO di INDONESIA"
Buku ini didapat dari teman yang membuka kios di 'Pasar Buku Langka, TMII', dan juga memasarkan secara 'on line'.
Bukunya belum terlalu tua, baru 67 tahun, namun sudah sulit bila sengaja cari buku ini, jadi bolehlah jika dikategorikan buku langka.
Dibawah adalah gambar RRI Solo (kiri) dan pengambilan peralatan radio di kaki gunung Wilis. Untuk lebih jelasnya, silahkan 'klik' gambarnya.
Pada halaman dibawah ini (226-227-228) adalah 'Ikhtisar Perjalanan RRI' mulai dari jaman Hindia Belanda, jaman Jepang, jaman sesudah Proklamasi, jaman perang/pendudukan Belanda sampai penyerahan kedaulatan ke RI.
Sejarah hari jadi Radio Republik Indonesia pada tanggal 
11 September 1945 terdapat pada subjudul akhir, halaman 22.

 Sejarah Radio di Indonesia, tentu tidak bisa melupakan peran 'Bung Tomo' (gambar kanan)
 
Dibawah adalah daftar pemancar RRI, lengkap dengan frekwensi yang digunakan (kiri) dan halaman penutup.
Diterbitkan oleh Kementrian Penerangan - Djawatan Radio Republik Indonesia, cetakan pertama, th. 1953.
Hard cover, 17 x 24 x 1.5 cm, 270 halaman.

Selasa, 18 April 2017

Serat Menak


Lebih kurang 2 bulan yang lalu, 'buku langka' dikirimi sebuah buku yang terlihat dari luar 'agak berantakan', sebagian terlihat ada yang dimakan kutu/ngengat, covernya masih ada dari kulit binatang, depan belakang tapi sudah tidak nyambung (lihat gambar bawah).
Seperti yang biasa dilakukan oleh penulis (tangan) pada akhir abad XIX, yang diberi nomer adalah 'lembar'nya, bukan halamannya
Halaman depan dan belakang sudah rusak terkoyak-koyak, dicoba disambung-sambung namun hasilnya tidak lengkap. 
Lembar ke 9, mulai relatif lengkap, terlihat jelas nomer dan tulisannya, walaupun ada lobangnya (gambar bawah kiri).
Halaman terakhir yang masih lengkap bisa terbaca jelas nomer dan tulisannya adalah lembar ke 374 (gambar bawah kanan).
Tidak diketemukan 'judul buku', penulisnya dan kapan ditulisnya.

Setelah dipelajari gaya tulisannya, terbaca kisah dalam bentuk 'tembang macapat', dan menemukan banyak nama, diantaranya nama Ki Jumiril (lembar 9), Prabu Lamdahur (lembar 218), Ki Umarmaya (lembar 227), Wong Menak Amir (lembar 374), Baginda Ambyah, Ki Lukmanakim, Sang Prabu Hasannarim, Raden Rurustan dan Nagari Meddayin (pada halaman2 yg tidak diketahui nomer lembarannya)
Maka disimpulkan bahwa isi buku tersebut adalah 
"SERAT MENAK", sebuah cerita bernafaskan Islam, 
yang sangat familier dengan masyarakat Jawa dan Melayu.
Gambar diatas adalah gambar lembar ke 218 dan lembar 227, sedangkan  gambar2 dibawah adalah lembar yang sudah tidak sempurna, namun masih terbaca nama.
Silahkan di 'klik' saja agar lebih jelas, karena ditambah sedikit transliterasi/sulih aksara, sehubungan dengan nama-nama sebagian pelaku utama pada cerita 'Serat Menak'

Pada gambar bawah, terlihat hanya pada halaman kanan yang diberi nomer.
Pada buku ini ada masih terhitung ada 383 lembar atau 765 halaman, ukuran folio (8" x 13"), hard cover lapis kulit embos ornamen Jawa.
Karena sudah tidak ada kolofonnya lagi, maka memperhatikan kertasnya, tintanya, gaya tulisan serta cara pemberian nomer pada kertasnya, maka diperkirakan buku ini ditulis pada 
akhir abad XIX. Maaf kalau keliru.