Selasa, 13 Maret 2012

Serat Tjentini, th 1914.

'Serat Centhini' ada juga yang menyebut 'Suluk Tambangraras-Amongraga' adalah sebuah karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru, ditulis dalam bentuk tembang (lagu) Jawa terdiri 12 jilid, atas prakarsa Raja Surakarta, Sunan Pakubuwana V semasa belum diangkat jadi raja, bernama Pengeran Adipati Anom, pada th. 1814, isinya dimaksudkan untuk menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa agar tidak hilang.
Sunan Pakubuwono VII mengubah Serat Centhini jilid 5 sampai jilid 9 menjadi 8 jilid untuk dihadiahkan kepada Belanda.

Disebelah ini buku langka koleksi 'rare book' berjudul 'Serat Tjentini', djilid V-VI, diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen di Batavia pada th. 1914. Dialih aksarakan dari kitab induk di Leiden, Nederland.


Disebelah ini gambar halaman 111 dalam buku 'Serat Tjentini'.
Terlihat bait2 puisi tembang (lagu Jawa).








Disebelah adalah contoh bait no. 89, tembang juru demung, dimana menceritakan Seh Amongraga sedang senang hatinya melihat ruangan sudah dihias indah diapit gagar mayang, dan seterusnya . .

Yang sebelah ini bait no. 95, tembang Asmaradana, menceritakan Seh Amongraga selesai tafakur mendapat sasmita dari Hyang maha Moelja, yaitu melihat bunga teratai sedang mekar.

Disebelah adalah bait no. 131, tembang Kinanti, menceritakan perjalanan Jayengresmi, Jayengraga, Kulawirya dan Nuripin.




Pada saat 'rare book' mendapatkan buku langka ini keadaannya seperti pada gambar diatas, covernya sudah pernah diperbaiki dan agak lusuh tertekuk namun halaman dan isinya masih lengkap. Dicetak oleh firma Ruygrok & Co, Batavia, th. 1914.
i.gr. 10.00*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar disini