Selasa, 25 Juni 2013

Peta Asia Tenggara dengan dwi aksara, Chinese dan Latin.

Bentuknya mirip buku, tapi isinya hanya 2 lembar peta. Di covernya tertulis huruf China, dibawahnya terbaca (Nan Yang Khiun Tau Tjwan Thu), berikutnya Peta Bumi Kapulauan Asia Tenggara. Penerbitnya Kuo Min Book Co. Pantjoran Djakarta. Sayang nggak ada tahunnya.

Selembar peta besar berukuran 100 x 65 cm, kertasnya agak tipis, bergambar peta.
Judulnya huruf China besar, dibawahnya kecil terbaca 'Peta Bumi Kapulauan Asia Tenggara', termasuk Kepulauan Indonesia, Burma, Siam, Annam, Filipina. Dibagian bawahnya ada peta pulau-pulau besar di Indonesia, Java, Soematra, Borneo, Celebes, Bali dan Lombok.

Dibagian pojok bawah kira peta Asia Tenggara terdapat peta rel kereta api dan lokasi stasiunnya, Djakarta, Gambir, manggarai, Angke, Tanah Abang, Pal Merah dan Senen (gambar bawah kiri). 
Dibagian bawah terdapat keterangan nama-nama kota dalam dwi bahasa dan aksara, latin dan china (gambar kanan).

Sedang peta yang satu lagi berukuran lebih kecil, 57 x 44 cm,
lebih tebal, dicetak bolak balik (lihat gambar bawah), peta Indonesia.

Di halaman belakang peta detail pulau besar, Soematra,  Borneo, Celebes dan Java.
Dibawah sekali tertulis 'Kuo Min Book Co. Pantjoran Djakarta.'

Dipojok kana atas terdapat stempel bentuk oval, lingkar atas tertulis 'Oei Kie Sing', lingkar bawah tertulis 'Koedoes' dan ditengah 'Hiap Liong' dan 2 huruf China.

Walaupun umurnya belum tua tapi kalau mau cari peta seperti diatas rasanya kaya cari jarum ditumpukan jerami.

Sabtu, 22 Juni 2013

'Tjin Siok Poo', cerita Tionghoa klasik dalam Tembang Jawa, Tulis Tangan.


Oleh teman, seorang pedagang buku2 bekas, ditunjukan pada  'buku langka' sebuah buku tebal kira kira 3.5 cm, berukuran folio, disampul karton tebal, dibagian belakang growak digigit tikus (lihat gambar bawah kanan). Katanya buku ini dipesan oleh seorang dosen sastra sebuah perguruan tinggi negri di Jawa Tengah.

Sewaktu saya coba lihat untuk membaca, terasa berat sekali, buku dijilid sendiri dengan tangan (lihat gambar atas kiri), saya buka halamannya terlihat buku seluruhnya ditulis tangan, dihalaman awal terbaca 'Cerita Tjin Siok Poo, ..tro Tje La.. dibuwang ka Jan San negarie' (gambar bawah).  



Selanjutnya (gambar atas) terbaca 'Sarkaro', 'Pan wus samio nampeni wang ringgit, miwah serat sigro pamittan brangkat, Sian Hongsin gio mundur hagee, marang Dji Lian Tjeng mantok, Kim Kok Tongwan mangalor nenggih, tigo Tjin Siok Poo . . .dst.


Bahasa penghantarnya menggunakan bahasa Jawa. Gaya penulisannya seperti menulis aksara Jawa, tapi menggunaka aksara latin biasa, walaupun tintanya berbeda-beda tapi gaya tulisannya sama  (gambar bawah). Komentar saya pada teman saya pedagang, “buku bagus”.



Pada saat akan berangkat ke stasiun, pulang naik kereta malam, ditelpon oleh teman pedagang buku, bahwa dosen yang diceritakan beberapa waktu yang lalu ternyata tidak jadi membeli buku yang ditunjukan, dan menanyakan apakah 'buku langka' berminat? Buku tersebut diantar kestasiun dan akhirnya buku tersebut menjadi milik 'buku langka' .
Setelah diperhatikan lebih seksama, ternyata seluruh cerita ditulis menggunakan huruf latin tetapi mengacu pada cara penulisan aksara Jawa dan dalam bentuk tembang (lagu Jawa) diantaranya ada Asmaradana, Dandanggula, Durma, Kinanthi, dll.(gambar bawah). Ini benar2 buku langka.


 Melihat ada beberapa kesalahan susunan, rupanya buku langka ini ditulis lebih dulu, kemudian disusun dan dijilid dengan tangan.

Membaca nama Tjin Siok Poo, teringat pada Tjin Han dalam cerita Sie Djin Koei dimana Tjin Siok Poo adalah ayah Tjin Han.
Pengarang Sie Djin Koei adalah Siauw Tik Kwie, ketertarikannya pada dunia kesenian dipengaruhi oleh ibunya, ibunya bernama Poa Tjin Nio, mampu membaca aksara Jawa serta sering menceritakan cerita klasik Jawa dalam bentuk tembang (lagu Jawa). (dikutip dari internet mengenai Siauw Tik Wie atau Sie Djin Koei).
Jadi walau tidak ada keterangan kapan dan siapa penulisnya, 'buku langka' menyimpulkan atau menduga bahwa buku langka ini karya dari ibunda Siauw Tik Kwie atau setidaknya atas prakarsa ibunda Siauw Tik Kwie. Maaf kalau keliru menyimpulkan buku langka ini.
Siapapun penulisnya, memperhatikan ceritanya, cara dan gaya penulisannya, ditulis dan dijilid tangan, karya sastra Indonesia keturunan Tionghoa, maka tingkat kelangkaan buku ini sangat tinggi dan buku ini mewakili jamannya.

Kamis, 30 Mei 2013

50 tahun Ratu Wilhelmina, 1898 - 1948.

Buku ini bisa dikategorikan 'buku langka' walaupun umurnya baru 65 tahun, judulnya "Het Guldenboek, 1898 - 1948", isinya mengenai Peringatan 50 tahun Wilhelmina menjadi Ratu Kerajaan Belanda.
Bukunya tidak terlalu mewah bahkan boleh dibilang sederhana, diterbitkan oleh De Locomotief, Semarang, pada th. 1948, 112 halaman, berukuran 32 cm, menggunakan bahasa Belanda.


Ada beberapa sambutan diantaranya dari :
- De President van Oost Indonesie ZE Tjokorda Gde Rake Soekawati.
- Luittent-General, Legercommmandant, SH. Spoor.
- Fungerend Commissaris van de Kroon Recomba voor West Java, RAA. Hilman Djajadiningrat.
- Masih ada lagi, termasuk Puisi, Sambutan Ratu Wilhelimina untuk Indie, dll.

 

Banyak juga perusahaan yang mensponsori sambil beriklan, diantaranya dari Pabrik Bir Heineken , Mentega Palmboom, Philips lampu, mobil Fiat dan Morris dan masih banyal lagi termasuk perusahaan pelayaran, perusahaan Oei Tiong Ham concern, Grand Hotel Makassar, penerbit buku dll.

Rabu, 15 Mei 2013

Buku 99 Names of Allah, ditandatangani (asli) oleh Masagung.

"Ninety-Nine Names of Allah, the Beautiful Name" adalah judul buku yang di unggah oleh  ‘rare book’  sebetulnya masih muda, terbit th. 1980. Tapi kalau ingin mencari buku seperti yang diunggah kali ini juga tidak gampang karena langka.
Yang membuat buku ini menarik dan bernilai tinggi, selain karena isi bukunya bagus, dicetak dengan kwalitas tinggi, adalah karena dalam buku ini ada tanda tangan asli Masagung (lihat/klik gambar bawah).

Haji Masagung adalah pendiri Toko Buku Gunung Agung, walaupun dia warga keturunan dengan nama Tjio Wie Tay, dia adalah seorang nasionalis tulen, bahkan nama Masagung diberi oleh Bung Karno, Proklamator, Presiden Indonesia yang pertama, "Kau jangan panggil dia Tjio lagi, dia kan sudah kuberi nama Masagung" ujar Bung Karno (dari buku 'Bapak Saya Pejuang Buku' oleh Ketut Masagung).

Buku kecil berpenghantar bahasa Inggris ini berukuran 15 x 14 cm, 128 halaman ini dicetak di Singapore pada tahun 1980. Penulisnya Shem Friedlander dan Al-Hajj Shaikh Muzaffereddin, kaligrafi Hattat Hamid al-Amidi, terjemah kedalam Arab dan Turki oleh Dr. Tevfik Topuzoglu.

Minggu, 28 April 2013

Ekspedisi Archbold, laporan asli penemuan Lembah Baliem, 1938.

"Algemeen Verslag Van De Nederlansch-Indische - Amerikaansche, Expeditie Naar Nieuw-Guinea 1938 - 1939" (Archbold - Expeditie), demikian yang tertulis pada halaman pertama, sebagai judul buku langka yang diunggah  ‘rare book’  kali ini.
Richard Archbold memimpin Ekspedisi ke Papua untuk American Museum of Natural History pada th. 1938 - 1939, melibatkan ilmuwan Amerika dan Belanda serta mendapatkan dukungan dari militer dibawah pimpinan Generalen Staaf Capitein C.G.J. Teerink dan Luitenant der Infanterie J.E.M van Arcken, ditambah bantuan tenaga untuk mengangkat barang dari suku Dayak Kalimantan.
Buku langka yang diunggah  ‘rare book’  yang berisi 3 laporan ditambah beberapa lampiran, termasuk lampiran Surat Perintah Militer, merupakan Laporan Resmi dari Kapten Teerink dan Letnan Van Arcken, termasuk didalamnya laporan diketahui adanya “Groote-Vallei”, terkenal bernama Lembah Baliem dihuni oleh suku Dani, juga dalam laporan diterangkan mengenai “peniskoker” yang digunakan orang laki penduduk asli (sekarang terkenal dengan nama ‘koteka’).
Isi buku langka ini sangat menarik, karena dilaporkan langsung oleh pelakunya. Lebih menariknya lagi, laporan yang diketik langsung ini dibuatkan peta sangat sederhana posisi 'Baliemkamp' dan juga ditempeli foto2 asli (lihat gambar bawah), apalagi laporan tersebut dibubuhi tanda tangan asli salah satu pelakunya yaitu Luitenant van Arcken (lihat gambar atas).
Buku yang berukuran 21 x 30 cm, berisi :
1. Laporan Umum Ekspedisi. Oleh Kapten CGJ. Yeerink, sebanyak 30 halaman.  2. Catatan keadaan tanah dan orang-orang di "Greatest-Valley". Oleh CGJ. Teerink, sebanyak 27 halaman. 3. Mengenai daerah perumahan yang terletak 20 km sebelah BD + FET dari Bernhard Camp. Oleh Letnan Van Arcken, sebanyak 6 halaman.  4. Lampiran-lampiran.
Saat ditemukan ‘rare book’ ini dilapak kertas2 bekas, penjilidannya rusak dan sebagian dimakan kutu, jadi untuk mempertahankan buku ini dari kerusakan yang lebih parah maka covernya diperbaiki

Senin, 15 April 2013

Peraturan Berbaris Prajurit Kraton Surakarta, tahun Jimawal 1853.

"Wawaton Barisan Prajurit Darat"
Iyasan Dalem Sampeyan dalem Ingkang Wicaksana Ingkang Sinuhun kanjeng Susuhunan Pakubuwana ingkang kaping X, ing Surakarta. 
Demikian yang tertulis pada cover depan (HC) buku langka dibawah ini, maksudnya adalah Peraturan Baris Berbaris Prajurit Darat Kraton Surakarta, ... dst.

Buku ini walaupun umurnya belum tua sekali tapi sangat langka, terutama yang paling menarik bagi 'rare book' dalam buku langka ini adalah tanda tangan asli dalam aksara Jawa, dari Kolonel Komandan dan Letnan Kolonel Komandan Kedua, masing2 bernama Purbanagara dan Priyawinata.

Selain aba-aba biasa juga ada dibuat aba-aba menggunakan sempritan/peluit. Dibawah adalah sebagian aba-aba menggunakan sempritan, judulnya 'Tengara Sempritan'.

Dibawah ini cuplikan aba2 : 'Sitten', yang harus dilakukan oleh pasukan adalah : linggih sila, bedhile sumeleh ngadeg ana ngarep ..dst ( duduk sila, senjata ditaruh berdiri didepan ... dst).

Peraturan yang dibuku ini resmi digunakan, ditandai dengan adanya stempel kraton Surakarta dibeberapa halaman (gambar bawah).

Tulisan digambar bawah ini (halaman akhir) menerangkan bahwa penyusunnya adalah Bandara Pangeran Suryabrata, putra Susuhunan Pakubuwana ke X. Disusun pada bulan Muharam, tahun Jimawal 1853 atau masehi September th. 1922, sinengkalan : 'Guna Tata Kesthi Putra'.

Seperti yang terlihat pada gambar2 diatas, buku langka ini seluruhnya tertulis dalam aksara dan bahasa Jawa, penerbitnya Kraton Surakarta, berukuran 15 x 21 cm, 134 halaman.

Rabu, 27 Maret 2013

Obligasi Republik Indonesia, dokumen sejarah th. 1950 - 1965.

Kalau dilihat umurnya, obligasi-obligasi yang diunggah 'rare book' kali ini sebetulnya relatif belum terlalu tua, tapi itulah obligasi yang pertama dikeluarkan oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia (bukan RIS).
Dalam setiap Obligasi, selalu dicetak bersaman dengan kupon pengambilan bunga setiap tahun (lihat gambar atas bagian kiri).
Bundel specimen Obligasi yang dikeluarkan Pemerintah RI, terdiri dari :
1. Obligasi Republik Indonesia, th. 1950,
2. Obligasi Berhadiah, th.1959,
3. Obligasi Kosolidasi th. 1959,
4. Resipis Obligasi Pembangunan th 1964,
5. Resipis Obligasi Konfrontasi, th. 1964.

Dibawah ini gambat Obligasi Republik Indonesia, bunga 3% per tahun.  Ada 4 macam nominal yaitu Rp. 100,- , Rp. 500,- , Rp. 1.000,- dikeluarkan pada th. 1950 dan Rp. 100.000,- dikeluarkan pada th. 1954.

 Obligasi Berhadiah yang diterbitkan pada th. 1959, bunga nya 6 % per tahun, dengan nominal Rp. 5000,- .  

Obligasi Konsolidasi Republik Indonesia, th. 1959. Bunga 3.5 % per tahun, dengan nominal Rp. 100,- , Rp. 500,- , Rp. 1.000,- Rp. 5.000,- , Rp. 10.000,-. (gambar bawah).

Dibawah ini adalah specimen Pinjaman Obligasi Pembangunan, th. 1964. Bunga 6 %, dengan nominal Rp. 10.000,- , Rp. 50.000,- , Rp. 100.000,- dan Rp. 1.000.000,-.

Contoh Pinjaman Obligasi Konfrontasi, th. 1964. Bunga 15 %, dengan nominal Rp. 10.000 dan Rp. 50.000,- (gambar bawah).

Dalam bundel ini semua spesimen ada 2 set, kecuali Pinjaman Obligasi Konfrontasi hanya 1 set. 
Ada obligasiyang menyertakan jadwal pembayaran bunga & cicilan, selesai th. 2000. Tapi barangkali sudah tidak ada yang menghiraukan obligasi2nya mengingat saat itu nilai rupiah menjadi sangat rendah dalam waktu singkat.