Kamis, 16 Januari 2014

Tenggelamnya Kapal 'Van Der Wijck'.


Karena saat ini sedang ramainya dibicarakan orang, termasuk di media masa, film yang dibuat berdasarkan novel ini juga sedang diputar di bioskop, maka kali ini 'rare book' latah, ikut-ikutan mengunggah buku sastra monumental, berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" karya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), selain sastrawan beliau juga ulama besar, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama. 
Yang diutarakan disini bukan isinya tapi 'kisah mengenai novel' Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Cerita "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" ini pertama kalinya dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat di Medan pada tahun 1938 sebagai cerita bersambung. Terbitan I & II oleh Penerbit M. Syarkawi, mulai 1951 diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbitan th 1961-1962 oleh Penerbit Nusantara, penerbitan selanjutnya oleh Bintang Bulan. 
Kritikus sastra Indonesia menganggap Van Der Wijck sebagai karya terbaik Hamka.


Gambar kiri adalah cover depan terbitan th. 1951, sedang gambar kanan adalah gambar poster film 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck'.
Hamka yang tokoh Islam, pernah dituduh oleh seorang sastrawan terkenal yang bergabung dengan organisasi kesenian sayap kiri, bahwa Van der Wijck adalah plagiat dari sebuah novel luar negri. Mungkin ada unsur politiknya.
Beberapa kritikus melihat adanya kesamaan alur cerita maupun tehnik penceritaanya, namun 'Paus' sastra Indonesia, H.B. Jassin berpedapat tidaklah mungkin hasil plagiasi, sebab cara Hamka mendeskripsikan tempat itu sangat mendalam dan sama dengan gaya bahasa dalam tulisan-tulisan Hamka sebelumnya. Jassin juga menegaskan bahwa novel Van der Wijck membahas masalah Adat Minang, yang tidak mungkin ditemukan dalam karya sastra luar. 
A. Teeuw, ahli sastra Indonesia keturunan Belanda berpendapat bahwa 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck' mempunyai tema yang murni dari Indonesia (diambil dari Wikipedia bahasa Indonesia).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar disini