Selasa, 14 Januari 2014

'SARINAH', karya Ir. Soekarno. Cetakan Pertama, 1947.

Yang ingin 'rare book' tampilkan disini adalah sebuah 'arti & nilai' dari 'buku cetakan pertama', bukan isinya. Banyak penggemar buku hanya memperhatikan isinya saja, tapi bagi kolektor buku, menyimpan buku terbitan pertama adalah sebuah 'kebanggaan'. Selain sudah jarang, buku tersebut mewakili jamannya, baik dari bahasa, ekonomi maupun kebijakan pemerintah dan keadaan masyarakat saat itu.
Dibawah ini 'rare book' menampilkan salah satu karya Bung Karno, Proklamator sekaligus Presiden I RI, sebuah buku berjudul "SARINAH" cetakan I, terbit pada th. 1947 yang sudah dikategorikan sebagai 'buku langka'.
Berharap pengunjung bisa 'menikmati' buku ini walaupun sebatas bahasa, ucapan dan ejaan yang digunakan pada masa buku tersebut diterbitkan. Untuk memperjelas, silahkan 'klik' gambarnya.


Buku 'Sarinah' cet. I ini menggunakan kertas tebal berkwalitas bagus, hardcover, sehingga ketebalan buku ini nyaris 3 kali ketebalan buku terbitan berikutnya
Judul 'Sarinah' dicetak dengan warna emas, sedang cetakan berikutnya berwarna putih dan merah (gambar bawah, dari kiri kekanan cover cet. I, cet. II dan cet. III)

Gambar dibawah ini menunjukan perbedaan yang terlihat di halaman awal, 
Cet. I, diterbitkan 'Oesaha Penerbitan Goentoer', Jogjakarta, 1947.
Cet. II, diterbitkan 'Jajasan Pembangunan Djakarta', 1951.
Cet. III, diterbitkan 'Panitja Penerbitan Buku Buku Karangan Presiden Sukarno', 1963.

Gambar gambar berikut ini menunjukan perbedaan layout, gaya bahasa maupun ejaan yang digunakan :
" . . , waktoe saja misih "orang interniran : Pada soeatoe hari, saja datang mertamoe . . ". 
" . . , waktu saja masih "orang interniran : Pada suatu hari, saja datang bertamu . . "
Kata-kata 'mertamoe' dan 'misih' bukan salah ketik, tapi contoh kata-kata yang lazim digunakan pada saat itu. Pada penerbitan berikutnya istilah tersebut sudah dirubah sesuai dengan jamannya.
Cetakan I menggunakan ejaan 'Van Ophuijsen' sedang cetakan berikutnya sampai cetakan III menggunakan 'ejaan Suwandi', cetakan berikutnya mungkin sudah menggunakan EYD.
Dari 'buku langka' yang diunggah 'rare book' kali ini, berharap para pengunjung bisa menikmati perbedaan gaya penulisan pada sekitar tahun kemerdekaan dan bisa membayangkan percakapan para intelektual jaman dulu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar disini