Selasa, 11 April 2017

H.C. Klinkert. Maleish-Nederlandsch Woordenboek.


Buku yang diunggah kali ini adalah buku yang diterbitkan di Leinden oleh  E.J. Brill, th. 1893, yaitu sebuah kamus Melayu-Belanda karya 
'Hilebrandus Cornelius (H.C) Klinkert', 
yang sangat menarik karena selain tua dan langka, juga dilengkapi dengan huruf Arab agar lebih bisa dimengerti oleh yang membacanya. Mungkin saat itu, penulisan bahasa Melayu masih menggunakan huruf Arab. Judulnya :
"Nieuw Maleisch-Nederlandch Woordenboek"
Met Arabisch Karakter.

HC Klinkert tinggal di Semarang, adalah salah seorang yang dianggap ahli bahasa melayu oleh pemerintah Belanda walaupun bahasa Melayu dialek Jawa, maka sebelum ditugaskan sebagai penerjemah Alkitab berbahasa Belanda, ia diberi kesempatan untuk tinggal diantara masyarakat yang berbahasa Melayu asli; dan dia tinggal bersama keluarganya di Tanjungpinang (1864 - 1867). Sebelumnya, pada th. 1860, dia mendirikan mingguan 'Slompret Melaijoe', surat kabar pertama di Jawa Tengah, bertahan sampai th. 1911.
Sekembalinya dia ke Belanda, dia mulai menerjemahkan Alkitab dalam huruf latin maupun huruf Arab, menerjemahkan cerita dan menyusun bebeapa kamus, termasuk 'Nieuw Maleisch - Nederlandsch Woordenboek', yaitu kamus yang diunggah ini.

Diabawah ini adalah gambar2 halaman awal, akhir dan tengah buku
 "Nieuw Maleisch-Nederandsch Woordenboek, Met Arabisch Karakter" (klik saja gambarnya agar lebih jelas)

Buku ini berukuran 14.5 x 23 x 4 cm; VII + 712 halaman.

Data mengenai HC. Klinkert diambil dari internet, mohon maaf apabila ada kekeliruan.

Kamis, 30 Maret 2017

Qur'an Jawen I.


Buku koleksi 'rare book' kali ini sebetulnya belum tua banget (1933) tapi dikategorikan buku langkakarena selama mengumpulkan buku langka, belum pernah melihat Al Qur'an dengan terjemahan menggunakan huruf Jawa, selain yang dikoleksi sendiri.Setiap halaman berisi teks asli Quran, disebelah kanannya terjemahannya menggunakanhuruf Jawa.
Oleh penerjemahnya, Muhammad Amin bin Ngabdul Muslim, buku tersebut dinamakan "Qur'an Jawen". 

Karena ada perbedaan ejaan maka mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penyajian ini. 
Gambar kiri bawah dibagian bawah terbaca awal dari Surat At Taubah (Juz 10) dan gambar kanan adalah Surat Yunus (Juz 11).
Gambar bawah kiri, dibagian atas terbaca judul Surat Al Hijr (Juz 14), sedang di gambar kanan ditengah terbaca judul Surat An Naml (Juz 19).
Buku buku ini diterbitkan oleh 'Bukhandel Abu Siti Syamsiyah' di Surakarta, th. 1933, berukuran 14 x 20.5 cm.

i.gr. 03.50*

Sabtu, 11 Maret 2017

Suluk Syeh Siti Jenar.


Koleksi 'buku langka' yang diunggah dibawah ini sudah disimpan lebih dari tujuh belas tahun, didapat saat sedang melihat-lihat dagangan penjual buku bekas.
Terlihat menarik, baik covernya maupun kertasnya, ditulis tangan menggunakan aksara Jawa, biarpun belum mengerti isinya karena gaya tulisannya agak membingungkan, tetap bersyukur,  akhirnya 
buku ini menjadi koleksi 'buku langka'.
Karena 'buku langka' tidak ahli aksara Jawa, agak sulit memahami tulisan tangan yang ada dibuku ini, namun demikian pelan-pelan bisa juga terbaca bahwa isi buku ini berbentuk tembang 'macapat', 
yaitu salah satu bentuk tembang Jawa dan kalau membaca isinya yang banyak mengulas 'kebatinan', maaf kalau keliru, kemungkinan buku ini adalah "Suluk Syeh Siti Jenar".

Memang gaya tulisan tangan orang bisa sangat berbeda satu dengan yang lain. Ada yang rapi sesuai dengan ketentuan, ada juga yang menulis seperti yang terlihat dalam buku yang diunggah ini.
Agar lebih jelasnya, dibawah ini contoh perbedaan gaya penulisan aksara di buku ini, dengan gaya penulisan yang lain.
Dalam buku yang diunggah ini, harus berpikir berulang-ulang 
untuk membedakan antara huruf 'k','t','h', huruf 's','n,'d', huruf 'a','g','y' dan banyak lagi huruf yang membingungkan, apalagi kalau tidak mengerti bahasa yang digunakan.  
Dalam buku tidak dijelaskan 'penulisnya', 'sumber' tulisannya, maupun 'kapan' ditulisnya. Hanya  ada tulisan nama dihalaman paling depan. 'Radhen Mas Pandji Partahardja', mungkin nama tersebut adalah pemilik pertamanya (bawah).  

Gambar-gambar dibawah adalah gambar halaman 1 dan 2, dimana diceritakan pertemuan Kyageng Pengging dengan Syeh Siti Jenar.

Sedang gambar-gambar dibawah ini adalah gambar halaman 282 dan 283, adalah halaman akhir,  
Pada akhir kisah, diceritakan Syeh Mahgribi menengahi perbedaan pendapat antara Syeh Mlaya dan Syeh Dumba, dan selanjutnya Syeh Mahgribi menutup persidangan/pertemuan, kemudian para santri, kyai. ulama, auliya, mukmin, masing-masing pada membubarkan diri (hlm. 279 - 283).

Disini tidak mengunggah kisah 'Syeh Siti Jenar' karena sudah banyak buku kisah Syeh Siti Jenar yang beredar, disini hanya mengulas mengenai 'buku langka' ini saja.
Buku berukuran 18 x 21 x 2.3 cm, hard cover berlapis kulit embos (gambar bawah), 283 halaman + beberapa halaman kosong dibelakangnya, Penjilidannya beberapa ada yang lepas, maklum umurnya sudah 'sepuh',100 an tahun, namun masih lengkap.
Melihat covernya, kertasnya maupun tintanya, diperkirakan ditulis sekitar akhir abad XIX atau awal abad XX, akhir th. 1800 an - awal th 1900 an.

Kamis, 16 Februari 2017

Mangkunagoro VI.


Buku peringatan '40 tahun ' atau '5 windu' wafatnya K.G.P.A.A  Mangkunagoro VI dibawah ini walaupun belum tua tetapi termasuk buku langka. Kalau melihat kata sambutan oleh Jenderal Nasution, yaitu pada tanggal 5 Juni 1965, maka saat ini umur buku ini 50 tahun. 
K G P A.A. Mangkunagoro VI adalah raja ke 6, Praja Mangkunagaran, istananya terletak di tengah-tengah kota Solo, tidak jauh dari Kraton Surakarta.
Beliau lahir pada tgl. 3 Maret 1857, naik tahta pada tgl. 21 November 1896, menggantikan kakaknya Mangkunagoro V wafat namun putra mahkota pengganti yaitu BRM Soerjosoeparto masih kecil.
Begitu putra mahkota BRM Soerjosoeparto sudah cukup usia untuk naik tahta, maka Mangkunagoro VI turun tahta atas kehendaknya sendiri, pada tgl. 11 Januari 1916 dan selanjutnya beliau menetap di Surabaya sampai meninggal pada 24 Juni 1928.
Mangkunagoro IV (MN IV) terkenal sebagai penguasa dan pengusaha yang disiplin dan juga anti Belanda.
Saat beliau menggantikan kakaknya, kas kerajaan sedang krisis karena keadaan dan ulah Belanda, bahkan punya utang pada Belanda.
Untuk mengatasinya maka MN IV membuat kebijakan-kebijakan, diantaranya menolak campur tangan Belanda dalam menangani usaha-usaha milik Mangkunegaran, memisahkan keuangan perusahaan dan keuangan kerajaan, menarik pajak tanah yang disewa yang dipakai kereta api swasta Belanda (NISM) dan saat NISM tidak membayar maka NISM jurusan Solo-Surabaya disita sebagai milik. Dan tentu saja kebijakan pemangkasan pengeluaran yang tidak diperlukan, misalnya mematikan lampu penerangan jalan pada
saat terang bulan.
Dengan kebijakan-kebijakan yang diterapkan, MN IV pada saat menyerahkan tahtanya kepada yang berhak, utang kerajaan sudah dibayar lunas, 'kas kerajaan' sudah 'sehat' kembali. 

Gambar bawah adalah MN IV pada saat berusia 28 tahun dan setelah bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagoro IV. 

Gambar bawah, kediaman beliau di jalan Panglima Sudirman Surabaya.

ZAMAN Perang Kemerdekaan 1948-1949. Puluhan mortir Belanda dijatuhkan di pemakaman yang ketika itu menjadi salah satu tempat pengungsian warga Solo. Ajaib! Tak satu pun mortir meledak. Lalu menyebarlah cerita tentang tuah makam itu. 
Dibawah ini gambar gerbang dan makam MN IV di SOLO.

Buku berukuran 11.5 x 18 cm, 237 hlm.

Teks dan gambar diambil dari buku diatas dan internet.
Maaf apabila ada kekeliruan.

Minggu, 29 Januari 2017

ATJEH


Koleksi 'buku langka' yang berjudul :
" A T J E H " oleh H.C. Zentgraaff ini 
termasuk langka karena sudah sulit kalau sengaja ingin membeli.
H.C. Zentgraaff, penulisnya, pernah bertugas sebagai militer di Aceh namun beralih kemudian menjadi wartawan Harian Java Bode. 
Buku ini dipenuhi lebih dari 150 foto-foto menarik, menggambarkan keadaan kehidupan, peperangan di Aceh.dan peta Aceh jaman dulu

Dibawah ini gambar anggota marsose Belanda.

Dibawah ini gambar-gambar mayat-mayat penduduk bergelimpangan akibat peperangan melawan Belanda

Selanjutnya gambar bawah, salah satu sarana transportasi jaman dulu adalah gendongan, baik untuk orang maupun barang.
Gambar bawah kiri, gendongan bertingkat untuk 2 anak, gambar kanan, gendongan untuk membawa bir.

Gambar berikutnya tampak 'gaya hidup Belanda saat itu, terlihat ada Hotel Julijana (kiri bawah) dan kunjungan minum teh para petugas wanita, diatas rel didorong dan dikawal marsose (bawah kanan).

HC. Zentgraaff juga menulis dalam bukunya (hlm. 63 & 100), 
'tidak ada satu bangsa manapun yang fanatik dan gagah berani seperti bangsa Aceh, pria maupun para wanitanya yang bersedia mati syahid membela bangsanya'.

Buku langka berukuran 23.5 X 31.5 X 3 cm, HC, 303 halaman ini dicetak oleh 'Koninlijke Drukkerij De Onie, Batavia. 
Tidak ditemukan keterangan dalam buku, kapan dicetaknya, tapi dihalaman 160, H.C. Zentgraaff menceritakan kejadian T. Radja Sabi menjadi Uleebalang di Keureutoe pada th. 1937. 
Jadi buku ini dicetak setelah th. 1937.
Maaf kalau keliru.

Jumat, 06 Januari 2017

KORUPSI di Madjalah Kebudayaan "INDONESIA", 1954. (II)


Sesuai rencana, 'buku langka' melanjutkan unggahan 'Bundel Majalah Kebudajaan Indonesia, 1954' yang mana salah satu nomernya, sepenuhnya berisi novel berjudul 'KORUPSI' karya Parmudya Ananta Toer, maka dibawah ini diunggah gambar bundel majalah dan majalah yang memuat 'Korupsi' tersebut diatas.

Dibawah ini gambar cover majalah kebudayaan 'Indonesia' no. 4, April 1954, berjudul "KORUPSI" karya Pramudya Ananta Toer.
Bawah kiri adalah gambar halaman judul, sedang sebelah kanan adalah halaman yang berisi penjelasan dari redaksi sehubungan dengan penerbitan "Korupsi" pada majalah kebuyaan 'Indonesia. Silahkan baca, untuk jelasnya, 'klik' saja gambar bawahnya, yang sudah diperbesar. Silahkan disimpulkan maksud dari penjelasan redaksi tersebut.

Gambar bawah adalah halaman awal dan halaman akhir "Korupsi".

Koleksi 'buku langka' lainnya adalah 'Korupsi cetakan II', terbitan NV. Nusantara, th. 1961 (gambar bawah).

3 gambar dibawah ini diambil dari internet yaitu edisi bahasa Inggris, Belanda dan Indonesia (2002).

Belum terlihat di internet 'Korupsi cetakan I' nya. Apakah 'Korupsi' yang di Majalah Kebudayaan Indonesia dianggap cetakan I ?.

Sabtu, 31 Desember 2016

Majalah Kebudayaan "INDONESIA", 1954. (I)


Sesungguhnya bundel majalah kebudayaan th. 1954 yang diunggah kali ini belum terlalu tua dan tidak langka sekali walaupun kalau sengaja ingin memiliki tentunya juga sulit. Namun begitu, dalam bundel majalah ini terdapat beberapa hal yang menarik, diataranya terdapat karya tokoh seni, sastra dan budaya yang terkenal pada jamannya sampai jaman sekarang.
Nama majalahnya adalah :

'INDONESIA, Madjalah Kebudajaan'
Bukan hanya isinya, bahkan Dewan Redaksinya juga sastrawan terkenal, bisa dilihat digambar bawah kanan, diantaranya ada Armijn Pane, Amir Pasaribu, S, Soedjojono dll.

Gambar bawah kiri adalah gambar cover depan bundel, menggunakan cover majalah no.: 1/2 bulan Januari/Februari 1954. Terlihat sketsa sdr. Batara Lubis, Jogja 11 7 53 (11 Juli 53). Demikian juga cover majalah No. 12, bulan Desember '54, terdapat sketsa Affandi.
Untuk menikmatinya silahkan 'klik' gambarnya.

Bagi penggemar puisi, dibawah ini puisi WS Rendra (masih muda), berjudul "Seorang Temanku".
Banyal juga kisah roman atau mungkin sekarang biasa disebut cerpen, karya sastrawan terkenal, diantaranya Ayip Rosidi, Utuy T. Sotani, Trisni Sumardjo, A.K. Mihardja dll. 

Bahkan salah satu nomer dalam bundel ini yaitu No. 4, bulan April 1954, full satu nomer berisi karya Pramudya Ananta Toer (masih muda), berjudul "Korupsi"
InsyaAllah, berikutnya akan diunggah buku/novel "Korupsi".

Bundel majalah tersebut diatas berukuran 15 x 23 x 3.8 cm, setebal 742 halaman,