Jumat, 30 Mei 2014

Surat dan tanda tangan GK Ratu Alit.

Gusti Kanjeng Ratu Alit adalah putri Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X, Raja Surakarta Hadiningrat.
Beliau menulis surat kepada adiknya Gusti Pangeran Hario Soerjobroto, bahwasanya beliau tidak bisa hadir pada acara pernikahan putri adiknya yang bernama Koesambarijah.
"Hadimas Soerjobroto.
Wijose, hodjo dadi penggalihmu dene hakoe hora bisa handjenengi idjab-kaboele anakmoe ndoek Koesambarijah ......." dst. Demikian sebagian isi suratnya.
Yang menarik dari surat ini, selain tanda tangan asli, surat ini menggunakan bahasa Jawa dengan ejaan aksara Jawa, kombinasi ejaan Van Huysen, misalnya kata-kata : 'hakoe hora bisa ...' maksudnya 'aku ora bisa ...'. 
Jadi memperhatikan tulisan kuno memang menarik.
Surat masih lengkap dengan amplopnya, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Mungkin nama Gusti Kanjeng Ratu Alit asing ditelinga, tapi kalau 'Dalem Kalitan' milik keluarga Pak Harto, Presiden RI ke II, rasanya tidak asing lagi.
Gusti Kanjeng Ratu Alit adalah pemilik awal 'Dalem Kalitan', hadiah dari ayahandanya Sinuhun Pakubuwana X. Setelah berganti-ganti tangan akhirnya pada th. 1965 menjadi milik keluarga Pak Harto, dibeli dengan cara mengangsur.
Dibawah ini adalah gambar pintu gerbang 'Dalem Kalitan' dan gambar dibawahnya lagi adalah keadaan halaman depan bangunan utamanya.

Mohon maaf apabila ada kekeliruan.

Sabtu, 05 April 2014

Mangkoe Nagoro VII, Het Triwindoe-Gedenkboek, th. 1939.


Sewaktu saya lihat buku langka ini belasan tahun yang lalu di penjual buku bekas, keadaanya sangat memprihatinkan. Hardcover dan jilidannya sudah lepas, banyak sekali lubang karena dimakan kutu buku. Tapi karena melihat design cover buku ini cantik sekali, dilapis kain batik yang dibuat khusus, berwarna hijau segar dengan gambar 'gunungan wayang kulit' bertuliskan 'MN VII', maka buku ini diambil 'rare book', selanjutnya diperbaiki semaksimal mungkin. Dan hasilnya seperti yang terlihat dalam gambar-gambar berikut ini.
Judul buku langka ini 'Het Triwindoe-Gedenkboek Mangkoe Nagoro VII' maksudnya 'Buku Peringatan Triwindoe Mangku Nagoro VII'. Sewindu adalah 8 tahun kalender Jawa.
Isinya adalah esai, gambar dan karya sastra bahkan komposisi musik dari para sahabat Mangku Nagoro VII, ada 168 orang dari dalam dan luar negeri termasuk Rabindranath Tagore, Ki Hajar Dewantara. 
Selain gambar-gambar P.A.H. Mangkoe Nagoro VII dari th. 1916 saat menjadi Komandan Legiun Istana Mangkunagoro, masih menggunakan nama Adipati Prangwadono, sampai foto beliau tahun 1938, dibawah ini MN VII bergambar bersama Rabindranath Tagore, seorang penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan, orang Asia pertama yang menerima hadiah Nobel.
Selanjutnya adalah gambar sambutan dari Rabindranath Tagore (kanan) dan bagian akhir sambutan dari Ki Hajar Dewantara (kiri).

Tidak hanya huruf biasa, tapi ada juga yang menggunakan huruf China (dari Oei Tjong Hauw, penerus Oei Tiong Ham, konglomerat raja gula dari Semarang). Huruf Arab dari H. Imam Rosidhi. Paling kanan gambar komposisi musik "Sonata voor vioolen en Piano opgedragen aan Pangeran Adipati Ario Mangkoe Nagoro VII" dari B. van den  Sigten horst Meyer, seorang komposer kelas dunia dari Nederland.  

Gambar berikut ini salah satu sebab yang membuat 'rare book' tertarik untuk mengoleksi buku langka ini. 
Dalam gambar gunungan pada cover depan terdapat tulisan angka 1846 - 1870, itu adalah angka tahun kalender Jawa, 24 tahun Mangkoe Nagoro VII menjadi Raja di Istana Mangkunagara. Dibawahnya ada tulisan aksara Jawa, namun tidak jelas terbaca dan dibawahnya terdapa inisial MN VII.
Sedang gambar disampingnya adalah gambar yang terdapat pada cover belakang, dalam ornamen terdapat inisial MN VII dan tahun internasional 1916 - 1939. 
Buku berukuran 23 x 32 cm, hardcover sampul kain batik, XVIII + 290 halaman, diterbitkan oleh 'Comite Voor Het Triwindoe Gedenkboek', Soerakarta, th. 1939.

Kamis, 03 April 2014

Manuskrip kuno dari serat kayu, 250 th.

Yang diunggah 'rare book' ini buku yang sangat langka, baik isinya maupun material kertasnya apalagi usianya, 2.5 abad lebih. 
Terlihat dengan jelas buku langka ini menggunakan kertas yang berserat dan mengkilat. Walaupun belum tahu jenisnya tapi yakin dari serat tumbuhan karena saat dibakar sedikit seratnya yang terlepas, baunya seperti bau kayu terbakar. Mungkin disebut kertas daluang. Maaf kalau keliru.
Covernya dari karton biasa, pasti bukan aslinya. Buku ini berukuran 20 x 27.5 cm, 350 halaman.

Dibawah ini adalah gambar halaman yang menerangkan pemilik buku ini, sedang gambar dibawahnya adalah pembesaran tulisan dan trasliterasinya : "Punika ingkang kagungan parimbon Kangjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi, tumurun dhumateng . . . " dst. 
Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi adalah nama Sri Sultan Hamengkubuwono I, sebelum mendirikan dan menjadi raja Ngayogyakarta Hadiningrat, pada tahun 1755. Jadi buku ini ditulis sebelum tahun 1755.Kalau mau jelas silahkan 'klik' gambar-gambarnya.

Jadi dari keterangan siapa pemiliknya, bisa diperkirakan, buku langka ini sudah berusia lebih dari 250 tahun. 
Pada tahun 1750 an untuk menulis, kebanyakan orang masih banyak menggunakan kertas dari bahan/serat tumbuh2an atau binatang.
Sesuai dengan keterangan penulisnya, buku langka ini adalah primbon, bermacam-macam isinya, ada pengobatan, ada cara membuat jimat, cara membuat rajah, tumbal dll. 
Bisa dilihat pada gambar2 dibawah, silahkan di 'klik' aja kalau mau lebih jelas.

Gambar bawah kiri, ada petunjuk pengobatan sakit cacar dari ramuan daun awar, kunyit asam, dilembutkan dan diberi rajah seperti terlihat pada gambar. Sedang gambar sebelah kanannya adalah gambar tumbal berbentuk tikus.

Sejak  'rare book' mendapatkan buka langka ini puluhan tahun yang lalu, belum pernah diperbaiki dan belum pernah dibaca secara detail karena khawatir rusak.

i.gr. 500.00

Rabu, 19 Februari 2014

Revolt In Paradise - Revolusi di Nusa Damai.


Bung Karno mengangkat tangannya. Ketika rakyat sudah tenang, ia berkata : "Ada lagi yang akan kukatakan sebelum aku meninggalkan saudara2. Saudara2 melihat diatas panggung ber-sama2 dengan saya ... seorang wanita kulit putih. .. Saya perkenalkan .. saudara K'tut Tantri dari pulau Bali. ..Saudara K'tut adalah seorang Amerika kelahiran Inggris, tetapi ia lebih dekat ke Indonesia daripada Inggris atau Amerika. .. Dia adalah satu2nya orang asing yang terang2an memihak kepada kita. Dia telah berusaha mengerjakan apa saja menurut kemampuannya untuk membantu kita dalam memperjuangkan kemerdekaan".
"Sekarang saya minta agar setiap laki2, setiap perempuan dan setiap anak ..memandang wajah Ktut Tantri dan mengingatnya baik2. ..Saudara2 harus melindungi Ktut Tantri sekuat tenagamu. .. Jagalah dia, kalau perlu dengan jiwamu." ('Revolt in Paradise, halaman 349-350, cet. I, th. 1964, Mega bookstore).
Buku yang diunggah ini belum menjadi 'buku langka', sengaja oleh 'rare book' diunggah agar jangan sampai kisah 'Revolt in Paradise' atau 'Revolusi Di Nusa Damai' dalam buku yang ditulis oleh 'Ktut Tantri' ini menjadi buku yang 'langka pembacanya' alias tidak ada yang membacanya. 
Mengisah Ktut Tantri bersama-sama Bung Tomo dan para pemuda-pemuda Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, bukan sekedar saksi mata tapi Ktut Tantri ikut berpartisipasi aktif, bahkan ikut menyelundupkan senjata bagi pasukan gerilya, ikut kegiatan spionase. 
Nama aslinya Muriel Stuart Walker, Ktut Tantri adalah nama yang diberikan karena diangkat anak oleh Raja Bali.
Mungkin buku dalam bahasa Indonesia terjemahan Major Abdul Bar Salim, terbitan 'Mega Bookstore', cetakan I, th. 1964 sudah  jarang ditemui. 
Gambar-gambar diatas adalah gambar Ktut Tantri diterima oleh Presiden Soekarno, Roeslan Abdulgani dan Jederal Nasution. Sedang gambar bawah adalah sambutan dari Bung Tomo dan Hoegeng (ex Kapolri).

Gambar bawah kiri adalah terbitan selanjutnya oleh penerbit Gunung Agung, sedang gambar bawah kanan edisi bahasa Inggris oleh penerbit Gramedia.

Bukan hanya bangsa Indonesia yang tertarik untuk membaca 'Revolt in Paradise', terbukti buku ini diterjemahkan lebih dari selusin bahasa Asing. Gambar bawah ini, sebelah kiri adalah dalam bahasa Perancis th. 1961, sebelah kanan terbitan Inggris th. 1960.

Dari internet saya melihat terbitan Gramedia, 'Revolusi di Nusa Damai' terbitan tahun 2006 (bawah kiri) dan 'Revolt in Paradise' diterbitkan di US pada 1 januari 1990 (kanan).

Kali ini 'rare book' memang tidak mengunggah 'buku langka', tapi mengunggah buku menarik yang patut dibaca khususnya oleh anak-anak muda Indonesia yang ingin mengetahui bagaimana kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, diceritakan oleh pelakunya.

Senin, 10 Februari 2014

Kitab "Djojobhojo", th. 1932.


Kitab "Djojobhojo" yang diunggah 'rare book' ini terbitan 'Uitgeverzaak "Terminus" Semarang', cetakan pertama,  dicetak pada th. 1932.
Selain nama seorang Raja, kata 'Djojobhojo' ini oleh masyarakat Jawa lebih dikenal dengan 'ramalan'nya yaitu  'Ramalan Djojobhojo' atau jaman sekarang biasa disebut 'Ramalan Jayabaya'.
Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi mengenai Ramalan Jayabaya, meramalkan keadaan tanah Jawa dan Indonesia dari masa ke masa. 
Disini  'rare book' tidak mengupas masalah ramalannya karena sudah banyak sekali buku yang mengupas dan menerangkan apa, siapa dan bagaimana 'Ramalan Jayabaya', tetapi mengangkat sedikit tentang 'keistimewaan' bahasa yang digunakan.

Kitab Djojobhojo Terpoengoet oleh : Haroemdjati. demikian judul buku ini, mungkin maksudnya yang merangkum Kitab Djojobhojo ini adalah sdr. Haroemdjati (Harumjati).
Memang bahasa yang digunakan adalah bahasa 'Melayu rendah' atau bahasa yang digunakan masyarakat Tionghoa dan masyarakat sederhana jaman itu, agar mudah dipahami oleh masyarakat yang tidak mempunyai pendidikan tinggi tapi senang membaca. Jadi bunyinya menjadi aneh dan lucu. Silahkan baca kalimat2 sebelah kanan dibawah ini (klik agar lebih jelas).
Misalnya kata-kata : '.. kita haroes kombali doloe pada djaman ...', '.. oleh kerna iapoenya kepandean ..', '.. iapoenja tampang moeka menandaken..' dll.

Dibawah ini ada tertulis judulnya : 
'Sedikit katrangan Kitab Djojobhojo jang disalin oleh Praboe Kian Santang'.

Dibawah ini ada kalimat yang menggunakan kata2 lucu : 
.., sama dateng berkoempoel sambil menangis sedih, kaokin orang asing jang sudah pergi  boeat dateng kombali, ..
Kata 'kaokin' disini artinya 'berteriak', diambil dari bunyi burung atau ayam yang berbunyi keras,  'berkaok-kaok'. Dan kalimat selanjutnya tentunya pengunjung sudah bisa menafsirkannya.

Dibawah ini adalah gambar cover depan dan cover belakang yang berisi iklan s.
Buku berukuran 15 x 21 cm, 33 halaman.

Sabtu, 25 Januari 2014

Manuscript, Serat Suluk, tulis tangan,1881.

'Suluk' diartikan sebagai jalan spiritual menuju Allah, juga mencakup keinginan untuk mengenal diri, memahami arti kehidupan, mencari kebenaran sejati. Menjalankan dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah.
Dibawah ini diunggah buku langka, sebuah manuskrip berjudul 'Serat Suluk', seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini, dalam dua halaman tertera judul buku ini (kanan) serta riwayat kepemilikannya dari th. 1881 sampai 1934, Sudah 20 tahunan buku langka ini dirawat 'rare book'. Sayang nama penulis dan kapan ditulis tidak ditemukan.
Diatas adalah gambar hardcover dari kulit lembu, dibawah gambar halaman 46 dan 47.

Diatas gambar dari hal. 38, tembang yang ke 11, pupuh 'Sinom', bunyinya : "Sang Maha Pandhita ngandika, ana pawestri utami, tuwekal ngibadahira, sinambi curaki ngelmi, ingkang den kaweruhi, niyat sunat lawan perlu wajibe ing ngagesang, miwah sipate Hyang Widi, lawan Islam Tokit lan Makripat".

Gambar atas dari hal. 105, tembang 31, pupuh 'Smaradana', bunyinya : "Salat Luhur kang winarni, marmane patang rekangat, duk sira dinadeake, tangan suku karo pisan, den ta salat Ngasar, papat rekangate iku kadadening serira nira".

Gambar atas dari hal. 109, tembang 32, pupuh 'Gambuh', "Yen wus paningalmu, jroning cipta ing ngalam laut, pesthi ana wangsit ting hyang prayogi . . . dst"

Diatas gambar terawang kertas yang digunakan.
Dibawah ini gambar 4 halaman akhir yang ditempel dengan potongan majalah atau surat kabar, berisi 'Suluk Manikmaya'
Sebuah manuskrip langka, buku langka 167 halaman, hardcover dari kulit di embos corak hias Jawa, ditulis tangan menggunakan aksara Jawa, dalam bentuk tembang Jawa jenis 'macapat'.

Kamis, 16 Januari 2014

Tenggelamnya Kapal 'Van Der Wijck'.


Karena saat ini sedang ramainya dibicarakan orang, termasuk di media masa, film yang dibuat berdasarkan novel ini juga sedang diputar di bioskop, maka kali ini 'rare book' latah, ikut-ikutan mengunggah buku sastra monumental, berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" karya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), selain sastrawan beliau juga ulama besar, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama. 
Yang diutarakan disini bukan isinya tapi 'kisah mengenai novel' Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Cerita "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" ini pertama kalinya dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat di Medan pada tahun 1938 sebagai cerita bersambung. Terbitan I & II oleh Penerbit M. Syarkawi, mulai 1951 diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbitan th 1961-1962 oleh Penerbit Nusantara, penerbitan selanjutnya oleh Bintang Bulan. 
Kritikus sastra Indonesia menganggap Van Der Wijck sebagai karya terbaik Hamka.


Gambar kiri adalah cover depan terbitan th. 1951, sedang gambar kanan adalah gambar poster film 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck'.
Hamka yang tokoh Islam, pernah dituduh oleh seorang sastrawan terkenal yang bergabung dengan organisasi kesenian sayap kiri, bahwa Van der Wijck adalah plagiat dari sebuah novel luar negri. Mungkin ada unsur politiknya.
Beberapa kritikus melihat adanya kesamaan alur cerita maupun tehnik penceritaanya, namun 'Paus' sastra Indonesia, H.B. Jassin berpedapat tidaklah mungkin hasil plagiasi, sebab cara Hamka mendeskripsikan tempat itu sangat mendalam dan sama dengan gaya bahasa dalam tulisan-tulisan Hamka sebelumnya. Jassin juga menegaskan bahwa novel Van der Wijck membahas masalah Adat Minang, yang tidak mungkin ditemukan dalam karya sastra luar. 
A. Teeuw, ahli sastra Indonesia keturunan Belanda berpendapat bahwa 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck' mempunyai tema yang murni dari Indonesia (diambil dari Wikipedia bahasa Indonesia).