Tampilkan postingan dengan label kerajaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerajaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2019

Pranatan Pasamuwanipun Kanjeng Ratu Hemas, Prameswari Sri Susuhunan Pakubuwana X, Surakarta.


"Pranatan lampah lampah pasamuwan tingallipun Prameswari Dalem Gusti Kangjeng Ratu Hemas, kaleres wiyossan tumbuk :32: tahun, benjing ing dinten Rebo Wage, tanggal kaping :12: wulan Rejep, ing tahun Be :1856: kaparengnging Karsa Dalem, sontennipun mawi pasamuwan dhine".

Kalimat diatas adalah transliterasi dari aksara Jawa, pada gambar atas, judul dari sebuah 'pranatan/tata cara/urut-urutan untuk pasamuwan (pertemuan pesta) peringatan hari lahir Gusti Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri Sri Susuhunan Pakuwuwana X', Surakarta, diselenggarakan pada hari Rabu Wage, bulan Rajab, tahu Be 1856 atau 27 Januari 1926 M.

'Gambar-gambar dibawah ini adalah 6 halaman 'Pranatan' tersebut diatas.
Halaman 1 (kiri), berisi Judul dan tata cara membuku singepnya Raja, tata cara mengenai kehadiran serta tempat duduknya Raja di Pandhapa Sasana Sewaka, serta tata cara untuk barisan pengawal.
Halaman 2 (kanan), berisi tata cara menempatkan dan membunyikan gamelan, tata cara saat Raja duduk ditempatnya, cara mengatur duduk Raja dan tamu kehormatan saat dhine (diner).

Halaman 3 (kiri), berisi tata cara mengenai penyambutan kehadiran Kanjeng Tuan Residhen, tata cara menyediakan rokok cerutu, selanjutnya tarian yang dibawakan oleh putra dan cucu Raja.
Halaman 4 (kanan), berisi tata cara menyajikan minuman, makanan dan kepulangan Tuan Residhen. Bab 13 mengenai siapa saja diwajibkan menghadap memberi selamat serta jenis pakaian yang digunakan

Halaman 5 (kiri) meneruskan ketentuan bab 13, yaitu urutan pemberian hormat, yaitu masuk setelah Tuan Residhen selesai memberikan hormat. Demikian juga dengan para abdi dalem dan prajurit.
Halaman 6 (kanan) masih meneruskan tata cara penghormatan. 
Paling bawah ditulis keterangan, kapan rangkaian 'Pranatan' (tata cara) ini disahkan. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat (klik) gambar dibawah ini.
"Kadhawuhaken ing dinten Senen, tanggal kaping 10 wulan Rejeb, tahu Be, 1856.
Diperintahkan pada hari Senin, tanggal 10 Rajab, tahun Be, 1895 (25 Januari 1926 M).

Mohon maaf bila terjadi kekeliruan atau ada yang tidak berkenan, pranatan upacara tersebut diatas diunggah untuk menambah wawasan pengunjung 'buku langka' mengenai salah satu budaya adiluhung keraton Surakarta. 

Jumat, 30 Juni 2017

Layang Damarwulan


Yang diunggah 'bukulangka' dibawah ini berjudul 
"LAJANG DAMAR-WOELAN"
menggunakan ejaan versi van Ophuysen, atau 'Layang Damar-Wulan' dalam ejaan sekarang. Dengan pengantar berbahasa Belanda.
Buku langka berukuran 21.5 x 27 cm, XXXIII + 55 + 110 halaman, HC, diterbitkan oleh Batavia Boekhandel Visser & Co. pada th. 1905.
Penulisnya D. van Hinloopen Labberton, seorang guru pengajar bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Dia juga anggota Comissie voor de Volklectuur dan kemudian komisi ini menjadi Balai Pustaka.

Layang Damar-Wulan (LDW), aslinya berbahasa dan beraksara Jawa, ditulis dalam bentuk tembang 'macapat' (lagu Jawa), 
tetapi dalam buku ini LDW ditulis dalam bentuk prosa biasa, tidak dalam tembang.
buku langka ini menggunakan bahasa Balanda sebagai bahasa penghantar, sedang LDW menggunakan bahasa Jawa.

LDW dalam buku ini, sebagian menggunakan huruf cetak dan sebagian menggunakan aksara Jawa (gambar atas).

Disini 'bukulangka' tidak menceritakan kisah Damar-wulan, karena kisahnya sudah populer dikalangan masyarakat, terutama masyarakat di Jawa.

Buku langka ini kelihatannya sudah pernah mendapatkan perbaikan, terutama covernya.

Sabtu, 11 Maret 2017

Suluk Syeh Siti Jenar.


Koleksi 'buku langka' yang diunggah dibawah ini sudah disimpan lebih dari tujuh belas tahun, didapat saat sedang melihat-lihat dagangan penjual buku bekas.
Terlihat menarik, baik covernya maupun kertasnya, ditulis tangan menggunakan aksara Jawa, biarpun belum mengerti isinya karena gaya tulisannya agak membingungkan, tetap bersyukur,  akhirnya 
buku ini menjadi koleksi 'buku langka'.
Karena 'buku langka' tidak ahli aksara Jawa, agak sulit memahami tulisan tangan yang ada dibuku ini, namun demikian pelan-pelan bisa juga terbaca bahwa isi buku ini berbentuk tembang 'macapat', 
yaitu salah satu bentuk tembang Jawa dan kalau membaca isinya yang banyak mengulas 'kebatinan', maaf kalau keliru, kemungkinan buku ini adalah "Suluk Syeh Siti Jenar".

Memang gaya tulisan tangan orang bisa sangat berbeda satu dengan yang lain. Ada yang rapi sesuai dengan ketentuan, ada juga yang menulis seperti yang terlihat dalam buku yang diunggah ini.
Agar lebih jelasnya, dibawah ini contoh perbedaan gaya penulisan aksara di buku ini, dengan gaya penulisan yang lain.
Dalam buku yang diunggah ini, harus berpikir berulang-ulang 
untuk membedakan antara huruf 'k','t','h', huruf 's','n,'d', huruf 'a','g','y' dan banyak lagi huruf yang membingungkan, apalagi kalau tidak mengerti bahasa yang digunakan.  
Dalam buku tidak dijelaskan 'penulisnya', 'sumber' tulisannya, maupun 'kapan' ditulisnya. Hanya  ada tulisan nama dihalaman paling depan. 'Radhen Mas Pandji Partahardja', mungkin nama tersebut adalah pemilik pertamanya (bawah).  

Gambar-gambar dibawah adalah gambar halaman 1 dan 2, dimana diceritakan pertemuan Kyageng Pengging dengan Syeh Siti Jenar.

Sedang gambar-gambar dibawah ini adalah gambar halaman 282 dan 283, adalah halaman akhir,  
Pada akhir kisah, diceritakan Syeh Mahgribi menengahi perbedaan pendapat antara Syeh Mlaya dan Syeh Dumba, dan selanjutnya Syeh Mahgribi menutup persidangan/pertemuan, kemudian para santri, kyai. ulama, auliya, mukmin, masing-masing pada membubarkan diri (hlm. 279 - 283).

Disini tidak mengunggah kisah 'Syeh Siti Jenar' karena sudah banyak buku kisah Syeh Siti Jenar yang beredar, disini hanya mengulas mengenai 'buku langka' ini saja.
Buku berukuran 18 x 21 x 2.3 cm, hard cover berlapis kulit embos (gambar bawah), 283 halaman + beberapa halaman kosong dibelakangnya, Penjilidannya beberapa ada yang lepas, maklum umurnya sudah 'sepuh',100 an tahun, namun masih lengkap.
Melihat covernya, kertasnya maupun tintanya, diperkirakan ditulis sekitar akhir abad XIX atau awal abad XX, akhir th. 1800 an - awal th 1900 an.

Kamis, 16 Februari 2017

Mangkunagoro VI.


Buku peringatan '40 tahun ' atau '5 windu' wafatnya K.G.P.A.A  Mangkunagoro VI dibawah ini walaupun belum tua tetapi termasuk buku langka. Kalau melihat kata sambutan oleh Jenderal Nasution, yaitu pada tanggal 5 Juni 1965, maka saat ini umur buku ini 50 tahun. 
K G P A.A. Mangkunagoro VI adalah raja ke 6, Praja Mangkunagaran, istananya terletak di tengah-tengah kota Solo, tidak jauh dari Kraton Surakarta.
Beliau lahir pada tgl. 3 Maret 1857, naik tahta pada tgl. 21 November 1896, menggantikan kakaknya Mangkunagoro V wafat namun putra mahkota pengganti yaitu BRM Soerjosoeparto masih kecil.
Begitu putra mahkota BRM Soerjosoeparto sudah cukup usia untuk naik tahta, maka Mangkunagoro VI turun tahta atas kehendaknya sendiri, pada tgl. 11 Januari 1916 dan selanjutnya beliau menetap di Surabaya sampai meninggal pada 24 Juni 1928.
Mangkunagoro IV (MN IV) terkenal sebagai penguasa dan pengusaha yang disiplin dan juga anti Belanda.
Saat beliau menggantikan kakaknya, kas kerajaan sedang krisis karena keadaan dan ulah Belanda, bahkan punya utang pada Belanda.
Untuk mengatasinya maka MN IV membuat kebijakan-kebijakan, diantaranya menolak campur tangan Belanda dalam menangani usaha-usaha milik Mangkunegaran, memisahkan keuangan perusahaan dan keuangan kerajaan, menarik pajak tanah yang disewa yang dipakai kereta api swasta Belanda (NISM) dan saat NISM tidak membayar maka NISM jurusan Solo-Surabaya disita sebagai milik. Dan tentu saja kebijakan pemangkasan pengeluaran yang tidak diperlukan, misalnya mematikan lampu penerangan jalan pada
saat terang bulan.
Dengan kebijakan-kebijakan yang diterapkan, MN IV pada saat menyerahkan tahtanya kepada yang berhak, utang kerajaan sudah dibayar lunas, 'kas kerajaan' sudah 'sehat' kembali. 

Gambar bawah adalah MN IV pada saat berusia 28 tahun dan setelah bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagoro IV. 

Gambar bawah, kediaman beliau di jalan Panglima Sudirman Surabaya.

ZAMAN Perang Kemerdekaan 1948-1949. Puluhan mortir Belanda dijatuhkan di pemakaman yang ketika itu menjadi salah satu tempat pengungsian warga Solo. Ajaib! Tak satu pun mortir meledak. Lalu menyebarlah cerita tentang tuah makam itu. 
Dibawah ini gambar gerbang dan makam MN IV di SOLO.

Buku berukuran 11.5 x 18 cm, 237 hlm.

Teks dan gambar diambil dari buku diatas dan internet.
Maaf apabila ada kekeliruan.

Senin, 01 Februari 2016

Serat Aji Pamoso


"Aji Pamoso"
Demikian judul 'buka langka' ini.
Sesuai dengan keterangan yang tertulis dihalaman depan, 
transliterasi, sbb.:
'Punika Serat Aji Pamoso, tuturutaning Pustaka Raja Puwara panungilipun bab satunggal, kawengku salebeting Serat Maha Dharma, babon anggitanipun Swargi Raden Ngabehi Ronggowarsito'
Dicetak di percetakan 'Albret Rushe' di Surakarta, th. 1900, 
buku langka ini berukuran 13.5 x 19.5 x 3.2 cm, 
seluruhnya  492 halaman (berisi 10 jilid)
Berisi 'sejarah kuno' yaitu cerita pejalanan Prabu Kusumawicitra atau Prabu Aji Pamoso untuk menjadi Raja.
 Cerita dalam bentuk tembang 'Macapat' yaitu salah satu bentuk tembang Jawa berisi beberapa bentuk irama atau lagu.

Gambar atas kiri adalah jilid 1, cerita awal dimulai dan sebelah kanan adalah awal kisah pada jilid 5.
Gambar atas kiri adalah awal jilid 10 dan gambar kanan akhir jilid 10, tamat bagian 1.
Ini sebagian transliterasi kalimat terakhir :
'wus palastha wuryanning kinanthi, kinarya reh wuwuruk, marang rare kang murang niti, supadi dadya darma, marmanya sinawung, sajarwa tembang macapat, dening radyan ronggowarsita ngabehi, kaliwon kadipatyan'.
"Tamat".

Buku ini pernah mendapat perbaikan pada penjilidan dan covernya, warna kertasnya juga sudah menguning, maklum sudah 'seratus tahun' lebih.

Kamis, 10 Desember 2015

Primbon dan Jangka Jayabaya. III.

'rare book' kembali meneruskan apa yang sudah diunggah beberapa waktu yang lalu, yaitu 2 buah buku terbitan UNS, Universitas Sebelas Maret, Solo. 

 Buku kedua yang diunggah ini berjudul :
Serat 
"Jangka Jayabaya"
Gambar atas adalah cover depan, tertera kalimat sbb :
Anggitanipun Raden Ngabehi Ronggawarsita ing Surakarta.
|
Kababar malih dening Universitas Sebelas Maret,
ing Surakarta Hadiningrat.
Tahun 1994.

Kata Pembukanya menggunakan aksara Jawa dan huruf cetak.
Gambar dibawah adalah kata pembuka huruf cetak, diantaranya menerangkan bahwa buku ini dicetak menggunakan mesin cetak baru aksara Jawa, bantuan dari presiden Soeharto. 
'Jangka Jayabaya' sangat populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan bagi sebagian masyarakat Jawa, ramalan berbentuk cerita yang 'legendaris' ini dianggap sebagai 'panduan' guna mendapatkan gambaran masa lalu, masa kini dan masa depan di pulau Jawa. 
Disini 'rare book' tidak mengetengahkan 'ramalan' tapi hanya 'buku langka' ini saja.

Gambar bawah kiri adalah halaman 1, menceritakan bahwa 
'Prabu Jayabaya' menerima tamu dari negeri Rum bernama 
'Molana Ngali Samsuzen'
"Punika cariyosipun Prabu Jayabaya ing Kadiri, kala katamuwan Pandita saking Rum, anama Molana Ngali Samsuzen . . . dst".
Molana Ngali menceritakan tentang isi buku 'Musarar' kepada Raja Jayabaya, diantaranya mengenai kedatangan orang pertama di Pulau Jawa. 
Gambar atas kanan berisi awal ramalan Raja Jayabaya :
"Sareng antawis dinten Prabu Jayabaya anganggit jangkanipun ing tanah Jawi, menggah ingkang kasebut, awit ing tanah Jawi kaisenan tiyang kang kaping kalih dumugenipun ing kiyamat kubra, . . dst"

Gambar bawah adalah halaman akhir, halaman 28. Ini cuplikan kalimat terakhir :
". . . boten wonten prakawis punapa punapa, wadyabala amung misuka bingah kaliyan ulah asmara"." O". 
Buku ini hanya berisi 28 halaman, dicetak satu muka, hard cover dibungkus plastik bening.

Rabu, 09 Desember 2015

Primbon dan Ramalan Jayabaya. II

 'rare book' meneruskan apa yang sudah diunggah beberapa waktu yang lalu, yaitu 2 buah buku terbitan UNS, Universitas Sebelas Maret, Solo. 

"Serat Primbon"  
demikian judul buku yang diunggah lebih dulu.  
Gambar bawah adalah covernya, pada saat bukunya masih baru, tulisannya berwarna kuning emas.

Seperti tertulis pada Covernya (atas) maupun pada halaman judul (gambar bawah kiri), buku ini karangan Raden Ngabehi Atmasupana II, Surakarta.
Diterangkan pada halaman 1 (gambar atas kanan), dikarang oleh 'Rd. Atmasupama II' pada tahun Alip 1779 (1850 M), selanjutnya melalui cucunya, dihaturkan kepada Bandara Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat IV dan seterusnya diserahkan kepada Museum Radya Pustaka. 

Buku ini berisi 'resep jamu' dan 'keterangan benda bertuah'. 
Gambar-gambar dibawah ini adalah sebagian  yang terdapat dalam buku Primbon ini.
'Jamu bagi pria yang dianggap mandul' (atas kiri), , "Tambanne wong lanang ora bisa nganaki, ... dst", terdapat 3 resep jamu'
'Tuah atau manfaat' dari 'ayam cemani', pada gambar atas kanan, "Pangandikane Kanjeng Nabi Suleiman, pitik 'cemani' . . . dst". 
'Waktu paling baik bagi 'maling' (gambar kiri bawah), jadi diingatkan agar para warga berhati-hati, "Yen tanggal ganjil, dina pasar iya tinemu . . . dst".
'Bisul ditelapakan kaki' (gambar kanan bawah), "Godhong jarak dipipis kang lembut, banjur . . . dst".

Demikian buku yang pertama berjudul 'Serat Primbon', insya Allah, akan diunggah buku kedua yang berjudul 'Serat Jangka Jayabaya' atau biasa disebut 'Ramalan Jayabaya'