Selasa, 30 Juli 2013

Nederlandsch - Indisch Plakaatboek 1602 - 1811. Vijftiende deel.

Sesuai dengan judulnya, buku langka ini berisi semacam catatan singkat mengenai kebijakan Pemerintah Nederlansdch-Indisch (Belanda) dari tahun 1602 - 1811.
Koleksi 'rare book' yang diunggah ini adalah jilid yang ke XV, catatan dari th. 1808 -1809. Diterbitkan pada th. 1896, dalam bahasa Belanda.

Sulit bagi 'rare book' untuk mengerti seluruh isi buku langka setebal 1164 halaman ini, karena memang tidak paham bahasa Belanda, tapi yang jelas buku ini mencatat kebijakan dan kejadian pada saat Gubernur Jendral Herman Willem Daendels antara th. 1808 - 1809. 
Daendels memerintah th. 1808 - 1811, terkenal dengan proyek Jalan Raya Pos Anyer - Panarukan.


 Buku Nederlandsch - Indisch Plakaatboek ini begitu terkenal bagi kalangan sejarawan, sehingga beberapa toko buku internasional terkenal, menerbitkan/menjual cetak ulangnya, misalnya Abe book, Amazon dll.

Rabu, 24 Juli 2013

Tarich Atjeh dan Nusantara, tanda tangan asli penulisnya.

Sesuai dengan judulnya, "Tarich Atjeh dan Nusantara", buku ini memang berisi sejarah Aceh mulai dari sejarah jaman Purbakala termasuk diantaranya asal usul bangsa, bahasa dan nama Aceh.
Walupun relatif muda (50 tahun lebih), 'rare book' mengkategorikan buku ini sebagai buku langka karena terdapat 'tanda tangan asli penulis' buku ini yaitu H.M. Zainuddin.
Untuk diketahui bahwa menerbitkan buku pada waktu itu harus ada ijin dari 'Penguasa Perang Daerah' (lihat gambar atas).
Selain sejarah jaman Purbakala, ditulis juga sejarah negeri -negeri Pidie, Peureulak, Hikayat raja2 Pasai, Tamiang, Alas, Gayo, Daya, Idi, Meulaboh, termasuk adat istiadatnya.
Dibawah ini adalah gambar Judul Buku dan gambar bendera Alam Aceh, sedang dibawahnya lagi adalah gambar dari tanda tangan penulisnya. Untuk lebih jelasnya silahkan 'klik' di gambarnya.

Juga ditulis dalam buku langka ini mengenai ekspansi Siam dan Majapahit, perjalanan Ibnu Batutah, perkembangan Agama Islam di Nusantara, bagaimana masuknya tanaman lada ke Aceh, kedatangan Portugis, Belanda, Inggris, Perancis ke Aceh.

 Diatas adalah uang yang berlaku pada masanya (1641 -1760), wang emas, wang deureuham (dirham), wang perak, wang keueh (tembaga).

Termasuk dalam buku langka ini adalah Hukum dan Adat istiadat Aceh, Gronologis Sulthanat dan skema silsilahnya, Sulthan Ali Mughajat Sjah (1514-1530), Sulthan Ala Uddin Riajat Sjah (1588-1604), Tun Pangkat alias Perkasa Alam Sjah gelar Sulthan Iskandar Muda (1607-1636), disertai keturunannya, dst. sampai Sulthan Alaiddin Djuhar Alamsjah (1802-1830).
Gambarnya banyak, sayang  kwalitasnya kurang bagus.
Dibawah ini adalah gambar Masjid Raya lama di Kutaraja, didirikan oleh militer Belanda, selesai dibangun pada Desember 1881, sebagai pengganti masjid yang dibakarnya.

Buku ini dicetak oleh Penerbit Iskandar Muda, Medan, th. 1961, dengan ukuran 16 x 24.5 cm., 439 halaman, sayang saat buku langka ini didapat oleh 'rare book', bukunya banyak berlubang dimakan kutu buku.

Senin, 08 Juli 2013

Intermezzo. Manik-manik kuno. Ancient beads.

Sesuatu barang, kalau memang 'milik' atau memang diijinkan oleh Nya, maka akan mudah didapat, bahkan barangnya datang sendiri. Lho kok bisa .. ?

Bisaa .. , contohnya seperti yang tertera pada gambar dibawah ini. Untaian manik-manik ini dibawa orang ke 'rare book'. Sama-sama tidak tahu berapa nilainya, tapi minta ditukar dengan biaya transport Jakarta kesuatu tempat di Jawa Barat. Barangnya menarik, dan kesan kunonya sangat kuat.
Menurut buku "Manik-manik di Indonesia" yang diterbitkan oleh Djambatan, pada th. 1993, halaman 57, keterangan gambar no. 62, ditulis sebagai berikut :"... akan tetapi berdasarkan temuan serta, manik ini pembuatannya mungkin tidak melampaui tahun 900M".
Jadi mengacu pada buku tersebut, manik-manik yang dibawa orang tersebut diatas (gambar atas), diperkirakan dibuat sebelum 900M. Pedagang bisasanya menyebut dengan manik-manik Majapahit (1300M-1500M), walaupun sebutan itu keliru.

Pada untaian manik-manik terdapat manik yang aneh, tidak ada dalam buku "Manik-Manik di Indonesia" dan belum lihat di internet, yaitu manik-manik dengan gambar wajah manusia (bukan gambar sistem 'etsa'), lihat gambar bawah. Kalau mau jelas, klik gambarnya.

Kembali ke awal, mengenai 'milik', kalau tidak ada 'milik', walaupun sudah berusaha, jangan paksakan untuk mendapatkan, apalagi dengan cara menipu, mencuri, korupsi dll. Kalau mau dengan cara yang 3 terakhir, hasilnya bisa jauh berlimpah-limpah dari yang diinginkan sebelumnya, sebab dibantuin setan.

Selasa, 25 Juni 2013

Peta Asia Tenggara dengan dwi aksara, Chinese dan Latin.

Bentuknya mirip buku, tapi isinya hanya 2 lembar peta. Di covernya tertulis huruf China, dibawahnya terbaca (Nan Yang Khiun Tau Tjwan Thu), berikutnya Peta Bumi Kapulauan Asia Tenggara. Penerbitnya Kuo Min Book Co. Pantjoran Djakarta. Sayang nggak ada tahunnya.

Selembar peta besar berukuran 100 x 65 cm, kertasnya agak tipis, bergambar peta.
Judulnya huruf China besar, dibawahnya kecil terbaca 'Peta Bumi Kapulauan Asia Tenggara', termasuk Kepulauan Indonesia, Burma, Siam, Annam, Filipina. Dibagian bawahnya ada peta pulau-pulau besar di Indonesia, Java, Soematra, Borneo, Celebes, Bali dan Lombok.

Dibagian pojok bawah kira peta Asia Tenggara terdapat peta rel kereta api dan lokasi stasiunnya, Djakarta, Gambir, manggarai, Angke, Tanah Abang, Pal Merah dan Senen (gambar bawah kiri). 
Dibagian bawah terdapat keterangan nama-nama kota dalam dwi bahasa dan aksara, latin dan china (gambar kanan).

Sedang peta yang satu lagi berukuran lebih kecil, 57 x 44 cm,
lebih tebal, dicetak bolak balik (lihat gambar bawah), peta Indonesia.

Di halaman belakang peta detail pulau besar, Soematra,  Borneo, Celebes dan Java.
Dibawah sekali tertulis 'Kuo Min Book Co. Pantjoran Djakarta.'

Dipojok kana atas terdapat stempel bentuk oval, lingkar atas tertulis 'Oei Kie Sing', lingkar bawah tertulis 'Koedoes' dan ditengah 'Hiap Liong' dan 2 huruf China.

Walaupun umurnya belum tua tapi kalau mau cari peta seperti diatas rasanya kaya cari jarum ditumpukan jerami.

Sabtu, 22 Juni 2013

'Tjin Siok Poo', cerita Tionghoa klasik dalam Tembang Jawa, Tulis Tangan.


Oleh teman, seorang pedagang buku2 bekas, ditunjukan pada  'buku langka' sebuah buku tebal kira kira 3.5 cm, berukuran folio, disampul karton tebal, dibagian belakang growak digigit tikus (lihat gambar bawah kanan). Katanya buku ini dipesan oleh seorang dosen sastra sebuah perguruan tinggi negri di Jawa Tengah.

Sewaktu saya coba lihat untuk membaca, terasa berat sekali, buku dijilid sendiri dengan tangan (lihat gambar atas kiri), saya buka halamannya terlihat buku seluruhnya ditulis tangan, dihalaman awal terbaca 'Cerita Tjin Siok Poo, ..tro Tje La.. dibuwang ka Jan San negarie' (gambar bawah).  



Selanjutnya (gambar atas) terbaca 'Sarkaro', 'Pan wus samio nampeni wang ringgit, miwah serat sigro pamittan brangkat, Sian Hongsin gio mundur hagee, marang Dji Lian Tjeng mantok, Kim Kok Tongwan mangalor nenggih, tigo Tjin Siok Poo . . .dst.


Bahasa penghantarnya menggunakan bahasa Jawa. Gaya penulisannya seperti menulis aksara Jawa, tapi menggunaka aksara latin biasa, walaupun tintanya berbeda-beda tapi gaya tulisannya sama  (gambar bawah). Komentar saya pada teman saya pedagang, “buku bagus”.



Pada saat akan berangkat ke stasiun, pulang naik kereta malam, ditelpon oleh teman pedagang buku, bahwa dosen yang diceritakan beberapa waktu yang lalu ternyata tidak jadi membeli buku yang ditunjukan, dan menanyakan apakah 'buku langka' berminat? Buku tersebut diantar kestasiun dan akhirnya buku tersebut menjadi milik 'buku langka' .
Setelah diperhatikan lebih seksama, ternyata seluruh cerita ditulis menggunakan huruf latin tetapi mengacu pada cara penulisan aksara Jawa dan dalam bentuk tembang (lagu Jawa) diantaranya ada Asmaradana, Dandanggula, Durma, Kinanthi, dll.(gambar bawah). Ini benar2 buku langka.


 Melihat ada beberapa kesalahan susunan, rupanya buku langka ini ditulis lebih dulu, kemudian disusun dan dijilid dengan tangan.

Membaca nama Tjin Siok Poo, teringat pada Tjin Han dalam cerita Sie Djin Koei dimana Tjin Siok Poo adalah ayah Tjin Han.
Pengarang Sie Djin Koei adalah Siauw Tik Kwie, ketertarikannya pada dunia kesenian dipengaruhi oleh ibunya, ibunya bernama Poa Tjin Nio, mampu membaca aksara Jawa serta sering menceritakan cerita klasik Jawa dalam bentuk tembang (lagu Jawa). (dikutip dari internet mengenai Siauw Tik Wie atau Sie Djin Koei).
Jadi walau tidak ada keterangan kapan dan siapa penulisnya, 'buku langka' menyimpulkan atau menduga bahwa buku langka ini karya dari ibunda Siauw Tik Kwie atau setidaknya atas prakarsa ibunda Siauw Tik Kwie. Maaf kalau keliru menyimpulkan buku langka ini.
Siapapun penulisnya, memperhatikan ceritanya, cara dan gaya penulisannya, ditulis dan dijilid tangan, karya sastra Indonesia keturunan Tionghoa, maka tingkat kelangkaan buku ini sangat tinggi dan buku ini mewakili jamannya.

Kamis, 30 Mei 2013

50 tahun Ratu Wilhelmina, 1898 - 1948.

Buku ini bisa dikategorikan 'buku langka' walaupun umurnya baru 65 tahun, judulnya "Het Guldenboek, 1898 - 1948", isinya mengenai Peringatan 50 tahun Wilhelmina menjadi Ratu Kerajaan Belanda.
Bukunya tidak terlalu mewah bahkan boleh dibilang sederhana, diterbitkan oleh De Locomotief, Semarang, pada th. 1948, 112 halaman, berukuran 32 cm, menggunakan bahasa Belanda.


Ada beberapa sambutan diantaranya dari :
- De President van Oost Indonesie ZE Tjokorda Gde Rake Soekawati.
- Luittent-General, Legercommmandant, SH. Spoor.
- Fungerend Commissaris van de Kroon Recomba voor West Java, RAA. Hilman Djajadiningrat.
- Masih ada lagi, termasuk Puisi, Sambutan Ratu Wilhelimina untuk Indie, dll.

 

Banyak juga perusahaan yang mensponsori sambil beriklan, diantaranya dari Pabrik Bir Heineken , Mentega Palmboom, Philips lampu, mobil Fiat dan Morris dan masih banyal lagi termasuk perusahaan pelayaran, perusahaan Oei Tiong Ham concern, Grand Hotel Makassar, penerbit buku dll.

Rabu, 15 Mei 2013

Buku 99 Names of Allah, ditandatangani (asli) oleh Masagung.

"Ninety-Nine Names of Allah, the Beautiful Name" adalah judul buku yang di unggah oleh  ‘rare book’  sebetulnya masih muda, terbit th. 1980. Tapi kalau ingin mencari buku seperti yang diunggah kali ini juga tidak gampang karena langka.
Yang membuat buku ini menarik dan bernilai tinggi, selain karena isi bukunya bagus, dicetak dengan kwalitas tinggi, adalah karena dalam buku ini ada tanda tangan asli Masagung (lihat/klik gambar bawah).

Haji Masagung adalah pendiri Toko Buku Gunung Agung, walaupun dia warga keturunan dengan nama Tjio Wie Tay, dia adalah seorang nasionalis tulen, bahkan nama Masagung diberi oleh Bung Karno, Proklamator, Presiden Indonesia yang pertama, "Kau jangan panggil dia Tjio lagi, dia kan sudah kuberi nama Masagung" ujar Bung Karno (dari buku 'Bapak Saya Pejuang Buku' oleh Ketut Masagung).

Buku kecil berpenghantar bahasa Inggris ini berukuran 15 x 14 cm, 128 halaman ini dicetak di Singapore pada tahun 1980. Penulisnya Shem Friedlander dan Al-Hajj Shaikh Muzaffereddin, kaligrafi Hattat Hamid al-Amidi, terjemah kedalam Arab dan Turki oleh Dr. Tevfik Topuzoglu.