Minggu, 16 November 2014

Kitab Majemuk Jawi, Tulis Tangan.

Judul yang tertulis pada cover depan ini sebagai berikut :
"Kitab Majemuk " Kagunganipun Raden Mas Ngabehi Kartahartana.
Kitab Majemuk ini berisi 80 macam ajaran/ketentuan dalam agama Islam. 
Dalam buku langka ini terdapat 'Kata Pengantar' (4 halaman) dari penulisnya, bernama 'Raden Sastragupita', seorang 'abdi carik' (juru tulis) dari Raden Mas Ngabehi Kartahartana. Beliau menerangkan bahwa buku ini menyalin dari Kitab Majemuk lama, dimana buku tersebut menggunakan huruf Arab pegon/gundul  serta menggunakan bahasa Jawa ngoko.
Agar masyarakat Jawa mudah memahaminya maka oleh carik Raden Sastragupita, digubah  menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa Krama yang halus.

Diatas adalah halaman awal dan akhir dari Kata Pengantar.
'Kulanuwun, ing sarehne ing mangke  saweg rame-ramenipun titiyang Jawi sampun sami gumaregah panggalihipun sumedya angekahi saha anjembaraken agaminipun . . . ., demikian bunyi awal kata pengantar (gambar kiri).

Gambar bawah adalah bagian akhir halaman 4, Kata Pengantar, terdapat keterangan waktu kapan buku ini ditulis, yaitu 21 Januari 1931.
tapi pada halaman akhir buku ini ada keterangan, bahwa buku disalin pada bulan Dulhijah (Besar), tahum Jimakir 1810 atau 
17 November 1881 (gambar bawah) . 
Rada aneh memang. Atau mungkin salah tulis (?)

Dibawah ini gambar halaman awal Kitab Majemuk (kiri) dan halaman akhir Kitab Majemuk (kanan). Nomer halaman menggunakan angka Jawa sedang pada halaman Kata Pengantar menggunakan angka biasa..
Ada yang menarik, terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Jawa halus
"Awit ingkang Asma Allah, kang murah ing dunya kang asih in akhirot". 
"Kawilujengan rohmat tuwin barokahipun Gusti Allah, mugi tetep wonten ing jengandika sadaya"
Terlihat sedikitnya ada 2 macam karakter aksara Jawa, ada yang miring dan ada yang tegak.
Yang miring terlihat rapi dengan sudut kemiringan sama.
Yang tegak, ini istimewanya, karena penulisnya, abdi carik Raden Sastragupita, membuat karakter aksara Jawa khusus (gambar bawah).
Karakter diatas digunakan pada setiap judul 'Bab' dan seluruhnya ada 80 judul.


Kitab Majemuk ini berukuran 20.5 x 29.5 x 3.5 cm, 497 halaman + 4 halaman kata pengantar + 5 halaman daftar isi.
Mohon maaf bagi yang tidak paham bahasa Jawa.

Rabu, 12 November 2014

Sukarno, Autobiografie Opgetekend door Cindy Adam.

Ini buku langka, koleksi 'rare book', baru dapat dari teman yang bergerak di bisnis buku langka.
"Sukarno. Autobiografie Opgetekend door Cindy Adam"

Buku berbahasa Belanda ini terbit pada th. 1967, terjemahan dari aslinya berbahasa Inggris berjudul 'Sukarno. An Autobiography as told to Cindy Adam' th. 1965.
Dalam bahasa Indonesia terbit pertamakalinya th. 1966, dengan judul 'Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia'

Gambar-gambar dibawah terdapat dalam buku 'Sukarno. Autobiografie Opgetekend door Cindy Adam',

Sayangnya, buku langka ini jacketnya rusak, jadi hanya jacket bagian depan saja yang masih uth ditempelkan didepan.
Buku disampul/dilapis dengan plastik, dikerjakan dengan bagus, sehingga terlihat kuat, rapi dan aman.

Rabu, 05 November 2014

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. II

Sudah lama 'rare book' mendapatkan 7 buah buku langka. Selain isi bukunya, yang menarik adalah sampulnya. Oleh pemilik sebelumnya, covernya dilapisi kain batik berbeda-beda motif, tapi semuanya bermotif Bali (gambar bawah), memanjang dari depan sampai kebelakang.
Ada juga yang sudah terlihat dimakan kutu, tapi secara kesuluruhan, kondisi bukunya masih sangat bagus. 
Penerbitan buku-buku diatas semuanya diprakarsai oleh'Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'dicetak oleh beberapa percetakan di Bandung, Batavia maupun di Belanda.

Dibawah ini buku yang terbit th. 1902, berjudul "Verbaal Van Sese nTaola", ditulis oleh Dr. N. Adriani.
Diterbitkan oleh Albrecht & Co. di Batavia dan M. Nijhoff di 's Gravenhage.

Selanjutnya dibawah ini buku berjudul "Eenige Fabels en Volkslegenden van de Onderafdeeling Beloe" oleh A. Mathijsen dan Dr. N. Andriani, dicetak oleh Albrecht & Co. di Batavia dan M. Nijhoff di 's Gravenhage, th. 1915.

"Mededeelingen omtrent Beloe of Midden - Timor" door H. J. Grijzen.
Dicetak di Bandoeng oleh oleh Albrecht & Co. di Batavia dan M. Nijhoff di 's Gravenhage, th. 1904 (gambar bawah).


Terakhir, buku langka ketujuh, berjudul "Amarasisch Timoreesche Teksten" oleh P. Middelkoop.
Diterbitkan oleh A. C. Nix & Co. Bandoeng, pada th. 1939.


7 buah buku langka bersampul kain batik bermotif Bali, sudah diunggah semua, mudah2an bisa menambah wawasan.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. I


Sudah lama 'rare book' mendapatkan 7 buah buku langka. Selain isi bukunya, yang menarik adalah sampulnya. Oleh pemilik sebelumnya, covernya dilapisi kain batik berbeda-beda motif, tapi semuanya bermotif Bali (gambar bawah), memanjang dari depan sampai kebelakang.
Ada juga yang sudah terlihat dimakan kutu, tapi secara kesuluruhan, kondisi bukunya masih sangat bagus. 
Penerbitan buku-buku diatas semuanya diprakarsai oleh 'Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen' dicetak oleh beberapa percetakan di Bandung, Batavia maupun di Belanda.

Dibawah ini buku yang terbit th. 1906, berjudul "Het Verbaal Van Den Gulzigaard in het Tontemboansch, Sangireesch en Bare'e", ditulis oleh J. Alb. T. Schwarz dan N. Adriani.
Diterbitkan oleh Albrecht & Co. di Batavia dan M. Nijhoff di 's Gravenhage.

Selanjutnya dibawah ini buku berjudul "Niassche Priesterlitanieen" oleh W. L. Steinhart, dicetak oleh A.C. Nix & Co. Bandoeng, th. 1938.

"De Rechtsgeleerde Boekenschat va Batavia Ten Tijde der Compagnie" door Mr. J. van Kan.
Dicetak di Bandoeng oleh A.C. Nix & Co. th. 1935 (gambar bawah).

Empat buku langka bersampul kain batik motif Bali yang lainnya, insya Allah akan diunggah pada kesempatan berikutnya.

Kamis, 30 Oktober 2014

Serat Babad Surakarta, aksara Jawa.


'rare book' mengunggah 'buku langka' berjudul panjang : 
"Serat Babad Surakarta ingkang katelah dipun wastani Babad Giyanti mawi sekar Macapat"
maksudnya "Serat Babad Surakarta yang lebih dikenal dengan nama Babad Giyanti, dalam bentuk tembang (lagu Jawa) Macapat". Bundel lengkap berisi jilid I s/d IV.
Diberi judul 'Babad Surakarta' karena menceritakan kepindahan Kerajaan Mataram yang menguasai Jawa Tengah dan Timur, pindah ke Surakarta karena keratonnya di Kartasura dibakar oleh pemberontak Tionghoa. 
Sedang judul 'Babad Giyanti' diambil karena adanya sebuah perjanjian yang ditandatangani di desa Giyanti, terletak disebelah timur Surakarta, pada th. 1755. 
Hasil dari perjanjian adalah Mataram terbelah menjadi dua, Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta bergelar Hamengkubuwana, sedang Pakubuwana tetap di Surakarta.
Disni 'rare book' tidak membahas isi dari Babad Surakarta/Giyanti karena sudah banyak tulisan yang membahas isi atau kisahnya, baik didunia maya maupun dunia nyata.

Gambar atas adalah judul jilid I dan IV. 
Diakhir jilid IV dinyatakan akan dilanjutkan ke jilid V, tapi sampai bertahun tahun tidak terbit lagi.
Selain judul yang sudah ditulis diatas ditambah keterangan bahwa babad ini hasil karya Raden Tumenggung Yasadipura, pujangga kraton Surakarta Adiningrat.
Jilid I dicetak th. 1916, jilid II th. 1916, jilid III th. 1917 dan jilid IV th. 1918.
Buku ini tidak ada covernya, jadi kemungkinan ini bundel dari penerbitnya. 
Selain bundel ini juga ada terbitan per jilid, dengan tahun penerbitan sama dengan diatas, lengkap dengan cover, tampak gambar covernya dibawah ini.

Balai Pustaka juga menerbitkan Babad Giyanti karya Yasadipura juga, berbentuk tembang menggunakan aksara jawa, berturut-turut dari th. 1939 sampai th. 1941, sebanyak 22 jilid, yang mana jilid terakhir berisi daftar nama dan tempat. 

Senin, 27 Oktober 2014

Chattoelistiwa. Majalahnya Orang Bonjol, th 1939.

Majalah "Chattoelistiwa" (Katulistiwa) yang diunggah 'rare book' ini adalah sebuah majalah resmi dari Perserikatan 'Setia Bonjol', terbit pada bulan September 1939 sebagai nomer percobaan (dummy).
Sebuah majalah langka dan penuh dengan nilai sejarah, khususnya bagi masyarakat Bonjol, 'Nagari nan tigo Lareh, Rajo nan ampe selo', Sumatra Barat.
Masyarakat dari Bonjol yang merantau ke Medan dan sekitarnya membentuk perserikatan sosial bernama "Setia Bondjol" pada 22 November 1914 dan disahkan oleh pemerintah Belanda pada 22 Oktober 1921.
Sesungguhnya 'Setia Bondjol' sudah mempunyai Surat Kabar "Soeara Bondjol" sejak th. 1919, namun karena kesulitan biaya operasional maka "Soeara Bondjol" terpaksa dihentikan th 1925.
Baru pada September 1939, "Setia Bondjol" menerbitkan majalah 'Chattoelistiwa', salah satunya dimaksudkan sebagai sarana komunikasi diantara masyarakat Bondjol, 'Nagari nan tigo Lareh, Rajo nan ampe selo' yang tinggal di Medan dan sekitarnya.
Dalam gambar atas kiri, ditulis mengenai kerinduan anggota "Setia Bondjol" akan sebuah media karena "Soeara Bondjol" ditutup, dan kegembiraan dengan terbitnya "Chattoelistiwa", serta berharap agar masyarakat ikut berpartisipasi aktif dengan berlangganan dan mengirimkan tulisan maupun karangan.
Sebelah kanan adalah sambutan 'Sepatah djo Doeo', menggunakan bahasa daerah.

Ada juga rubrik 'Berita kampoeng' dan 'Apa kabar Bondjol'.

Ternyata 'Chattoelistiwa' juga ikut membangkitkan 'Cinta Tanah Air', mungkin masih terbatas kedaerahan, karena belum ada Indonesia (gambar bawah)

Koleksi 'rare book' terbatas hanya Nomer I dummy bulan September 1939, 12 halaman dan bulan November 1939. 
Berharap bisa mengunggah pada lain kesempatan, mudah2an bisa menambah wawasan.
Agar lebih jelas, silahkan 'klik' gambarnya.

Selasa, 30 September 2014

Iklan Kuno.

Gambar dibawah ini adalah iklan dari majalah 'KAJAWEN' tanggal 21 Maret 1934.

Isi iklan ini memberitahukan bahwa cerita bersambung dalam majalah 'Kejawen' berjudul 'Tresno Banten Yudha' sudah habis, diganti dengan cerita 'TARZAN' atau 'Wanara Seta' alias Monyet Putih.
Selain itu juga ada 'teka teki' berhadiah uang dari 25 s/d 250 gulden.

Dibawah ini adalah cover depan dan belakang majalah Kejawen. 
Kebetulan cover belakang (gambar kiri) dipasang iklan 'Van Nelle'.
Walaupun agak kotor, tapi sayang kalau dibuang karena isinya masih lengkap, lagi pula ada gambar dan tulisan yang cukup menarik untuk disimak.