Jumat, 25 Desember 2015

Ekspedisi Perbatasan Kalimantan Inggris dengan Kalimantan Belanda 1913.

Laporan berbentuk buku yang diunggah 'rare book' ini memang langka, judulnya :
"Verslag Der Commisie"
'Uitzetting Op Trrein van De Tusschen Het Nederlansche Gebeid en British Noord Vast-Gestelde Gren'
Buku ini memuat laporan bersama antara pihak Belanda dengan pihak Inggris mengenai 'penetapan batas' antara Kalimantan dibawah Inggris (bagian Utara) dengan Kalimantan dibawah Belanda (bagian Selatan).
Pihak Belanda diwakili :
J.H.G. Schepers dan E.A. Vreede.
Pihak Inggris diwakili oleh :
H.W.L. Bunbury dan G.St.V. Keddell.
Sekaligus sebagai penandatangan laporan ini.
Gambar atas menunjukan staf ekspedisi yang namanya sudah disebutkan diatas.

3 gambar diatas adalah 'Surat Pernyataan bersama pihak Belanda dan Inggris', ditandatangani oleh Staf Ekspedisi yang sudah disebutkan diatas.

Gambar atas adalah peta Kalimantan Utara dan Timur berukuran 107.5 cm x 66.5 cm, hasil ekspedisi penetapan batas Kalimantan Belanda dan Kalimantan Inggris. 
Peta diatas sebagai pelengkap laporan tersebut dibuat pada th. 1913.
Pada peta, jalur batas tanda + berwarna hitam tampak berliku-liku namun begitu melewati pulau Sibetik jalurnya menjadi lurus membelah pulau (gambar bawah).

Gambar atas kiri terlihat suasana perkemahan di Sembakoeng.
gambar kanan patok pengamatan di Pladjoe.

Buku ini berukuran 21.5 x 33.5 cm, hardcover, 76 halaman teks dan 22 halaman foto-foto, 3 diantaranya terlihat diatas.

Kamis, 10 Desember 2015

Primbon dan Jangka Jayabaya. III.

'rare book' kembali meneruskan apa yang sudah diunggah beberapa waktu yang lalu, yaitu 2 buah buku terbitan UNS, Universitas Sebelas Maret, Solo. 

 Buku kedua yang diunggah ini berjudul :
Serat 
"Jangka Jayabaya"
Gambar atas adalah cover depan, tertera kalimat sbb :
Anggitanipun Raden Ngabehi Ronggawarsita ing Surakarta.
|
Kababar malih dening Universitas Sebelas Maret,
ing Surakarta Hadiningrat.
Tahun 1994.

Kata Pembukanya menggunakan aksara Jawa dan huruf cetak.
Gambar dibawah adalah kata pembuka huruf cetak, diantaranya menerangkan bahwa buku ini dicetak menggunakan mesin cetak baru aksara Jawa, bantuan dari presiden Soeharto. 
'Jangka Jayabaya' sangat populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan bagi sebagian masyarakat Jawa, ramalan berbentuk cerita yang 'legendaris' ini dianggap sebagai 'panduan' guna mendapatkan gambaran masa lalu, masa kini dan masa depan di pulau Jawa. 
Disini 'rare book' tidak mengetengahkan 'ramalan' tapi hanya 'buku langka' ini saja.

Gambar bawah kiri adalah halaman 1, menceritakan bahwa 
'Prabu Jayabaya' menerima tamu dari negeri Rum bernama 
'Molana Ngali Samsuzen'
"Punika cariyosipun Prabu Jayabaya ing Kadiri, kala katamuwan Pandita saking Rum, anama Molana Ngali Sasuzen . . . dst".
Molana Ngali menceritakan tentang isi buku 'Musarar' kepada Raja Jayabaya, diantaranya mengenai kedatangan orang pertama di Pulau Jawa. 
Gambar atas kanan berisi awal ramalan Raja Jayabaya :
"Sareng antawis dinten Prabu Jayabaya anganggit jangkanipun ing tanah Jawi, menggah ingkang kasebut, awit ing tanah Jawi kaisenan tiyang kang kaping kalih dumugenipun ing kiyamat kubra, . . dst"

Gambar bawah adalah halaman akhir, halaman 28. Ini cuplikan kalimat terakhir :
". . . boten wonten prakawis punapa punapa, wadyabala amung misuka bingah kaliyan ulah asmara"." O". 
Buku ini hanya berisi 28 halaman, dicetak satu muka, hard cover dibungkus plastik bening.

Rabu, 09 Desember 2015

Primbon dan Ramalan Jayabaya. II

 'rare book' meneruskan apa yang sudah diunggah beberapa waktu yang lalu, yaitu 2 buah buku terbitan UNS, Universitas Sebelas Maret, Solo. 

"Serat Primbon"  
demikian judul buku yang diunggah lebih dulu.  
Gambar bawah adalah covernya, pada saat bukunya masih baru, tulisannya berwarna kuning emas.

Seperti tertulis pada Covernya (atas) maupun pada halaman judul (gambar bawah kiri), buku ini karangan Raden Ngabehi Atmasupana II, Surakarta.
Diterangkan pada halaman 1 (gambar atas kanan), dikarang oleh 'Rd. Atmasupama II' pada tahun Alip 1779 (1850 M), selanjutnya melalui cucunya, dihaturkan kepada Bandara Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat IV dan seterusnya diserahkan kepada Museum Radya Pustaka. 

Buku ini berisi 'resep jamu' dan 'keterangan benda bertuah'. 
Gambar-gambar dibawah ini adalah sebagian  yang terdapat dalam buku Primbon ini.
'Jamu bagi pria yang dianggap mandul' (atas kiri), , "Tambanne wong lanang ora bisa nganaki, ... dst", terdapat 3 resep jamu'
'Tuah atau manfaat' dari 'ayam cemani', pada gambar atas kanan, "Pangandikane Kanjeng Nabi Suleiman, pitik 'cemani' . . . dst". 
'Waktu paling baik bagi 'maling' (gambar kiri bawah), jadi diingatkan agar para warga berhati-hati, "Yen tanggal ganjil, dina pasar iya tinemu . . . dst".
'Bisul ditelapakan kaki' (gambar kanan bawah), "Godhong jarak dipipis kang lembut, banjur . . . dst".

Demikian buku yang pertama berjudul 'Serat Primbon', insya Allah, akan diunggah buku kedua yang berjudul 'Serat Jangka Jayabaya' atau biasa disebut 'Ramalan Jayabaya'

Selasa, 01 Desember 2015

Primbon dan Jangka Jayabaya. I.

Saat melihat-lihat buku di sebuah toko buku besar di sebuah mall pada tahun 1995, terlihat 2 buah buku yang menarik, karena :

1. Penjilidan buku-buku tersebut terlihat seperti penjilidan dikios pelayanan foto copy, tidak sebagaimana biasanya buku bikinan penerbit pada umumnya.
2. Beraksara/huruf Jawa, padahal sudah puluhan tahun tidak ada pernerbit yang menerbitkan buku-buku beraksara Jawa. Terakhir, buku berakasara Jawa, diantaranya terbitan 'Tan Koen Swie', 'Persatoean, Solo'. 'Bale Poestaka', 'Ab. Siti Sjamsijah' dll. Maaf kalau keliru.
3. Penerbitnya ternyata Universitas Sebelas Maret, Surakarta, setelah mendapatkan mesin cetak baru, aksara Jawa, yang berasal dari Presiden Soeharto.

2 buah buku tadi berukuran 21.5 x 29.5 cm, judulnya berbeda, yaitu :
* Serat Primbon. mengenai pengobatan dan benda bertuah
* Serat Jangka Jayabaya. Mengenai Ramalan.

Rasanya tidak mudah lagi untuk mencari buku-buku tersebut, walaupun masih muda, bisa juga 2 buku tersebut dikategorikan sebagai 'buku langka'.
Sudah 20 an tahun buku-buku tersebut menjadi koleksi 'rare book'.
Pada kesempatan berikut, 'Serat Primbon' dan 'Serat Jangka Jayabaya' 
akan diunggah satu persatu. Insya Allah.